tes

tes

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Ada yang jatuh…

Berjingkat pelan tidak ingin membangunkanmu, kucari-cari sumber suara itu.
Kulirik, menahan nafas, takut membangunkanmu.
Terlelap, seperti biasa. Damai. Bisa kunikmati sampai lupa diri.
Kutarik perlahan tumpukan bantal keduamu, seperti biasa kau membandel,
jatuh tertidur saat menonton TV.

Oh iya, suara itu.
Entah berapa kali hari ini keberadaanmu membuatku lupa tujuan.
Di bawah rak TV, di atas lemari, suara darimana itu tadi?
Sangat spesifik, sesuatu jatuh, berat, kemudian pecah.
Mana mungkin aku tidak bisa menemukan dalam kamar 3 kali 3 ini.

Ujung ranjang jadi tempatku duduk, dalam gelap.
Tanpa remang lampu, kesukaan kita.
Detik jam dinding seperti hitungan mundur bom waktu.
Membuat kepalaku berdenyut dan jantung berpacu seperti terburu-buru, entah apa, entah oleh siapa.

Erangan pelan, kau terjaga.
Mencariku dalam pelukan, terlambat bagiku untuk kembali ke sampingmu dan bersikap semua baik-baik saja.
“Ada apa?”, kau bertanya.
“Mimpi buruk.”, jawabku cepat.

Jangan buka mata, harapku dalam hati.
Larutlah lagi dalam mimpimu, aku belum selesai mencari.

Merambat pelan menghampiri, seperti yang ku suka.
Entah saat aku merajuk manja atau saat tak terjelaskan seperti ini.
Menenggelamkanku dalam pelukan, lalu membiarkanku hilang.

“Mimpi apa?”, bisikmu.
“Ada yang jatuh.”, jelasku pelan. Mencoba terdengar masuk akal.
“Besok pagi kita cari, sekarang tidurlah lagi.”
“Kau percaya, ada yang jatuh? Kau bahkan tak mendengarnya.”
“Kau bilang ada yang jatuh, maka ada yang jatuh.”, ujarmu sambil mempererat peluk.

Bisakah aku tinggal permanen dalam pelukan ini?
Tak ingin beranjak bahkan melakukan apapun lagi.
Kemudian kami tenggelam dalam kenyamanan masing-masing,
sampai pagi, siang, dan keesokan harinya lagi.
Aku bahkan sudah lupa tentang apa yang kucari.

29 September 2013
Terima kasih untuk selalu percaya,
bahkan untuk mimpi dan harapan yang paling gila.

Tinggalkan komentar

Filed under fiksi, R, random

salinglah menemukan

Perempuan, jadilah berani untuk mengarahkan priamu. Bukan berarti sosok ciptaan Tuhan yang dilahirkan kuat itu tidak pernah melemah dan kehilangan arah.

Perempuan, saat priamu menolak untuk menyerahkan kemudi, berdirilah di sampingnya, bukan tanpa pamrih. Ingatkan ada karang di sebelah kanan dan kiri yang mungkin tidak terlihat, ingatkan tentang arah angin yang tidak sepaham. Jadilah manusia yang menurutnya paling mengganggu, asal tak karam kapal kalian. Tidak selamanya seorang manusia selalu benar, tidak selamanya pula seorang manusia selalu salah.

Perempuan, saat priamu kesakitan dan terpukul mundur, jangan biarkan mereka tahu kalau kalian paham itu. Kalian paham segala kesakitan, atas kegagalan yang dialaminya, tapi jangan pernah mencoba maju dan membenahi sayapnya karena kau bisa tertampar egonya.
Diamlah, amati, pelajari bagaimana cara menjaganya dari kejauhan agar dia tak terjatuh lagi.

Perempuan, mungkin suatu saat nanti kau lupa mengatakan padanya bahwa kau mencintainya dan berulang kali priamu menagihnya. Kemudian dia berdalih bahwa semua rasamu padanya tak lagi sama. Biarkan saja.
Tetaplah setia menanti saat malam tiba dan dengan kekhawatiranmu menunggunya mencapai pintu. Tetaplah ada saat kejatuhannya, dan kadang keberadaanmu terlupakan saat ia menginjak kesuksesannya. Tetaplah ada di tempat yang sama, saat priamu pergi terbutakan dunia dengan kebahagiaannya sendiri.
Itulah pernyataan cinta paling gaduh yang tersembunyi.

Perempuan, biarkanlah priamu menikmati kejayaannya, keberhasilannya, meninggalkanmu di rumah untuk berdandan tanpa henti, karena kau sendiri tidak akan pernah merasa tampil cukup baik baginya. Saat dia menepuk dada, kau tahu siapa yang menjaganya, siapa yang mendoakannya, siapa yang menghitung berapa kali dia terjatuh dan berapa kali dia hendak menyerah.

Perempuan, saat nanti kau cukup beruntung, tiba-tiba saja, priamu akan datang. Tidak dengan ucapan terima kasih, tidak dengan ucapan cinta bertubi-tubi, tidak dengan karangan bunga, tidak dengan barang-barang idaman yang kau ceritakan sampai berbusa-busa. Saat dia datang, berbahagialah, karena dia tahu kemana harus pulang. Tempat ternyaman yang tak akan pernah cukup terceritakan, tapi ada. Hanya kepadamu dia pulang.

Perempuan, saat dia mencapaimu, kesampingkan segala keluhmu. Cukup sudah dia bergelut dengan dunianya. Telan saja. Berbahagialah, karena ternyata masih ada tempat yang cukup nyaman untuk kalian berdua.

Perempuan, saya percaya dunia ini dipenuhi dengan pria yang kurang lebih sama. Pria yang tesebar dalam tiap sudut cerita saya. Tapi apakah kalian masih ada? Perempuan dengan pengabdian tak berujung. Sama. Sayapun ragu. 🙂

Kalian perempuan dan pria dalam cerita, semoga segera saling menemukan. 🙂

12 September 2013

20130912-184010.jpg

Tinggalkan komentar

Filed under fiksi, random

Selamat Setahun Kemarin

Terima kasih untuk menjadi sederhana dan menerima apa yang ada.
Terima kasih untuk selalu ada di tempat yang sama.
Terima kasih untuk bersedia ditemukan dan menjadi pilihan.
Terima kasih untuk menjadikan istimewa segala kebiasaan.
Terima kasih untuk menjadi pengajar dan penunjuk jalan.
Terima kasih untuk selalu siaga mengisi ulang harapan.
Terima kasih untuk semua yang tidak sempat tersebut akan tetapi ter-resapi.
Terima kasih untuk perjalanan hidup yang menyenangkan ini.

Rendra Soedjono,
Selamat setahun kemarin. 🙂

20130703-074228.jpg

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Perpisahan bagi yang beruntung.

Ada pertemuan, juga ada perpisahan. Standar ya. Dimana-mana juga gitu. Nggak ada perubahan yang berarti dari jaman presiden Soeharto sampe sekarang udah ganti berapa kali.

Sekarang, saya sedang berada di sebuah TKP pertemuan dan perpisahan di Jakarta. Bandara Soekarno Hatta. Biasa sih ya, pertemuan dan perpisahan terjadi di sini.

Satu-satu nya hal melegakan dari sebuah perpisahan adalah adanya harapan untuk kemudian dapat bertemu lagi. Saya memperhatikan beberapa tatapan mata gelisah, entah pengantar maupun yang diantar. Kegelisahan untuk melepaskan dan menjalani hari entah berapa lama tanpa keberadaan satu sama lain. Beruntunglah, karena kita yang berada di sini sudah diberi keistimewaan untuk mempersiapkan sebuah perpisahan.

Beruntunglah, kita masih dapat memberikan lambaian tangan bagi mereka yang pergi maupun yang ditinggalkan. Beruntunglah kita masih diberi kesempatan untuk memberikan pelukan sebelum akhirnya terselamatkan harapan untuk dapat bertemu lagi. Nanti.

Gamang rasanya untuk membayangkan sebuah perpisahan yang terpaksa terjadi tanpa aba-aba. Sebuah peristiwa, keberadaan seseorang, mau tidak mau akan menjadi sebuah kenangan nantinya.

Hal terbaik yang mungkin bisa saya lakukan adalah selalu menganggap sebuah perpisahan tidak akan berujung dengan pertemuan. Dengan begitu saya bisa menghargai tiap momentum yang terjadi. Bahkan saya selalu mencoba mengabadikan tiap rangkaian peristiwa sampai suatu perpisahan harus terjadi. Memori manusia terbatas. Sangat disayangkan apabila momentum yang berharga akhirnya berakhir jadi kenangan yang terlupakan.

Sebelum saya meracau lebih jauh lagi, intinya adalah……tidak semua orang beruntung dapat memutuskan kapan suatu perisahan dan pertemuan akan terjadi. Hargai dan nikmati setiap peristiwa, setiap kejadian, dengan sesiapapun. Kita tidak akan tahu kapan sebuah peristiwa akan tergelincir jadi kenangan. Kenangan perpisahan.

Jakarta, 5 April 2013.
Kepada yang pergi, semoga untuk kembali.

4 Komentar

Filed under Uncategorized

rumah itu (semoga) kamu

Bukan lama atau sebentar yang menjadi jaminan sesuatu itu kuat. Ingat iklan semen Holcim yang membangun gedung-gedung dan menara dalam durasi hitungan puluhan detik tapi bangunan itu masih kokoh berdiri dan ada sampai sekarang? Oh well, ilustrasi yang kurang tepat. *toyor diri sendiri*

Terus terang saya kesulitan untuk menggambarkan sesuatu yang dibangun atau didapatkan dengan instan, tapi memiliki daya tahan yang patut dibanggakan. Bukan berarti nggak ada. Bukan berarti nggak bisa.

Apa sih ujungnya tulisan saya kalau bukan tentang hubungan. Yang saya nggak ahli aja bisa nulis panjang lebar begini, meskipun sering kali prakteknya nol besar. *nyengir*

oke, pindah fokus yaaa..

Berapa kali diganjar kehilangan? Kehilangan minor yang membuat kita bisa skip saat nyetir di jalan dan lupa arah tujuan, atau kehilangan besar yang meninggalkan dendam yang terus dipupuk dan berharap terbalaskan? Saya pernah mengalami semuanya. Berkali-kali juga.

Sampai suatu hari, Tuhan dengan selera humornya yang entah bagaimana saya harus bisa mencerna, meletakkan saya dalam situasi kehilangan keinginan untuk membenci. Penerimaan yang selama ini entah dimana tersembunyi, muncul perlahan dan membebaskan. Bukan karena ada pengganti dari kehilangan yang selama ini saya keluhkan. Tapi sesederhana dibukakan pintu baru untuk menerima sesuatu yang sebenarnya sudah saya tunggu dari lama. Kebebasan untuk saling memiliki seutuhnya.

Saya perlu rumah untuk pulang. Rumah untuk menata kembali langkah yang gagal setelah sehari penuh mencoba. Rumah yang akan menerima dan membebaskan siapapun saya. Rumah untuk beristirahat dari tuntutan di luar sana, dan menjadi diri sendiri. Rumah dimana saya bisa bertemu dengan separuh jiwa yang saya tinggalkan pergi. Rumah dimana saya meyimpan semua harta terbesar saya, mimpi-mimpi. Rumah yang membuat saya tidak sabar segera berlari pulang untuk menemukan orang yang sama, setiap hari.

Rumah itu (semoga) kamu.

Jakarta, 30 Maret 2013.

20130330-111125.jpg

Tinggalkan komentar

Filed under random

Mencintai kamu itu otodidak

Cinta itu otodidak.
Banyak yang berteori cinta itu ini, cinta itu begitu, bahkan saya pernah berteori bahwa cinta itu membebaskan. Saat kita mencintai sesuatu atau seseorang, tidak ada rasa yang lebih istimewa saat melihat yang kita cinta melenggang bebas dan bahagia, dengan atau tanpa keberadaan kita (atau saya). 🙂

Sekarang, di sini. Duduk di depan orang yang setidaknya hampir setahun terakhir menjadi salah satu manusia prioritas utama saya, seolah mendapat pencerahan, bahwa mencintai itu otodidak. Tidak ada yang dapat mengajari dengan sempurna bagaimana seharusnya mencintai atau dicintai. Semua hanya masalah persepsi. Betul kan?

Saat kita merasa sudah memberikan semaksimal yang kita mampu, eh yang bersangkutan sering merasa tidak cukup dan pura-pura tidak tahu. Familiar? 🙂

Tapi jangan salah, sering kali kita merasakan juga posisi di atas angin yang angkat dagu untuk segala perhatian yang sudah dicurahkan secara berlebihan. Kita menganggap itu biasa saja, padahal si empunya rasa sayang sudah setengah mati mengupayakan. Sekali lagi, cinta itu relatif. Pun, pengorbanan.

Saya mencintai kamu dengan sendirinya. Tanpa alasan, tanpa kenapa. Saya mencintai kamu dengan bebasnya, belajar sendiri, dengan atau tanpa campur tangan kamu, rasa ini meng-hebat luar biasa. Ini cinta yang saya pelajari dengan sendiri.

Seperti naik sepeda, banyak yang mengajarkan bagaimana tidak terjatuh, bagaimana tidak terluka, tapi yang mengayuh tetap saja dua kaki sendiri. Dalam mencintai, tidak ada yang sanggup melindungi hati yang berani dan terlanjur mencintai.

Saya mencintai kamu tanpa sempat berpamrih dan mengharapkan uluran tangan kembali. Saya mencintai seluruh bagian hidupmu tanpa terkecuali. Setiap kepingan masa lalu yang menjadikan kamu, pun akan coba saya cinta itu.

Mencintai dengan otodidak adalah sesempurnanya cara mencinta. Tanpa pernah tahu kapan belajar, tiba-tiba sudah ada di dalamnya. Kemudian terlibat dalam ketidaksengajaan yang indah. Saya tidak keberatan untuk terus belajar, mungkin tanpa sempat tahu bagaimana hasil akhirnya.

Jakarta, 7 Maret 2013.
Bagian mana yang belum kamu mengerti dalam “Aku mencintai sepenuhnya kamu?”.
PS. cepat sembuh ya.. 🙂

20130307-114455.jpg

3 Komentar

Filed under R, random