Category Archives: thoughts

Menikah versi Kieky Cahya. :)

Seorang teman bertanya pada saya “Nikah gimana rasanya?”. Nggak perlu nunggu sampai satu detik, saya jawab FUN. Jawaban yang sama yang saya berikan pada bos saya, hampir setahun yang lalu saat ditanya apa rasanya menikah. Alhamdulillah sampai sekarang jawabannya masih konsisten. Iya sih, kami (saya dan suami) memang belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pasangan lain. Istilahnya belum segitunya makan asam-garam dunia pernikahan. Tapi kalau dalam satu tahun pertama sudah bisa dijalani dengan FUN (menyenangkan), bukankah itu sebuah awal yang baik? 😀

  Kenapa bisa fun?

  1. Saya punya seseorang yang bisa saya miliki seutuhnya, 24 jam sehari. Ini penting sih buat saya yang posesif. Hahaha.
  2. Tujuan hidup saya menjadi tertata. Nggak bisa dipungkiri, saya harus bongkar-pasang prioritas dalam hidup. Karena sekarang saya bukan individu yang berpikir dan bergerak atas nama pribadi. Tapi sebagai catatan, semua perubahan tersebut adalah inisiatif saya sendiri, dan saya lakukan dengan senang hati.
  3. Saya punya seseorang untuk diandalkan. Yang jagain. Saya teramat dibebaskan untuk melakukan apapun yang saya mau, tapi sewaktu-waktu kepentok, ada yang jagain. He’s got my back in everything.
  4. Tentu akan sangat menyenangkan untuk bisa mengejar suatu target dan merealisasikan itu bersama, karena dalam pernikahan itu adalah kerjasama sebuah tim kecil. Suami dan istri, yang bergantian untuk menunjukkan arah, dan bekerjasama untuk sampai ke tujuan tersebut secepatnya.
  5. Saya punya kesempatan untuk merawat dan membahagiakan seseorang yang saya sayang, dari melek mata sampai tidur lagi. Untuk seterusnya.

Nah sekarang saya Tanya deh, bagian mana yang nggak FUN? 😀

Tapi ini bukan film Disney. Yang semuanya bisa berakhir dengan They lived happily ever after. Semua itu ada perjuangannya, ada usahanya. Nggak setiap hari berjalan dengan mulus. Yah namanya juga dua kepala.

Sejak awal sebelum saya menikah, saya berpegang pada konsep bahwa pernikahan itu adalah negosiasi tanpa batas. Kenapa negosiasi? Ya iyalah. Nggak semua yang kita mau dan kita kerjakan itu selalu benar di hadapan pasangan, begitu pula sebaiknya. Nah makanya itu, negosiasi selalu dilakukan tanpa batas. Sampai kapan? Sampai nggak perlu nego lagi. (baca: sampai suami nurut sama saya seratus persen) ahahahahaha..

Kalian pernah dibilang “ Ah sekarang kan masih pacaran, nikmatin dulu, jangan buru-buru nikah. Nanti kalo udah nikah juga nggak akan semanis itu.”? Trust me, you’re not alone. Saya udah hapal banget sama template kalimat begitu. Hihihi. Kenapa masa pacaran dan menikah harus berbeda? Semuanya masih bisa dibikin sama kok. Malah bisa dibikin lebih seru. Kalo dulu harus nahan kangen untuk ketemu, sekarang bisa ketemu tiap hari. Dan herannya saya masih sering kangen sih meskipun ketemu tiap hari. ;p

Iya-in aja sama orang yang beranggapan seperti itu. Mereka nggak akan mungkin asal ngomong kalau nggak punya pengalaman bukan? Tapiiii…bukan berarti kita juga harus mengalami hal yang sama seperti mereka. Justru kita harusnya bersyukur karena diberikan “bocoran” apa-apa yang mungkin kejadian dan bisa mengambil tindakan antisipasi secepatnya. Berterima-kasihlah pada mereka yang telah memberikan ilmu (ilmu pesimis lebih tepatnya), jadi kita bisa menghemat waktu tanpa harus mengalami hal yang sama. Bener nggak?

Nah, sama juga seperti yang sekarang saya sampaikan. Jangan langsung 100 persen dipercaya. Coba dibaca pelan-pelan, mana yang sekira cocok ya boleh setuju kalau nggak cocok ya jangan ditiru. Karena itu kan hak masing-masing orang untuk percaya pada informasi yang mana. Kembali lagi, saya hanya mencoba untuk describing FUN versi saya, meskipun sebetulnya nggak akan cukup kalau saya coba jabarkan.

Kalau kita mau makan nasi, tahapannya banyak, dimulai dari cuci beras, dibuang kotorannya, baru dimasak. Jangan asal ambil terus dimasak. Nanti kerikil dan kotorannya ikut kemakan. Sama juga kaya informasi, harus pinter-pinter untuk menyaring mana yang emang beneran penting atau cuman ngabisin durasi. 🙂

Jakarta, 24 Mei 2015

Iklan

1 Komentar

Filed under Our Stories, R, thoughts

Dua makhluk Tuhan bermain teka-teki. :)

Suatu pagi, saya terlibat pembicaraan dengan seorang teman di kantor/studio. Dia cameramen yang baru bergabung beberapa bulan terakhir. Padahal sama juga sih, saya juga bergabung belum ada setahun di perusahaan yang sama.

Saya sedang mencatok rambut – kegiatan rutin tiap pagi – saat sang cameramen masuk dan meletakkan barang bawaannya di ruang make up, yang sekaligus berfungsi sebagai tempat transit, sekaligus ruang curhat, sekaligus tempat menyimpan barang, sekaligus gudang, multifungsi sekali ya ruangan ini!

Anywaaaay, berhubung masih pagi dan belum banyak orang yang sampai di studio, tiba-tiba dengan randomnya kita ngobrol ngalor ngidul. Sebut saja namanya Edi.

Dari cerita yang saya tangkap, Edi menghabiskan 5 (atau 6 ya?) tahun terakhir di luar negeri untuk bekerja. Selama Edi bekerja di luar negeri, dia menjalankan hubungan jarak jauh. LDR, maaan! Long Distance Relationship! Dan berjalan mulus. Bravo! Di saat banyak pasangan yang tinggal sekota bahkan buat ngapel cuman perlu lima langkah aja bubar. Nah ini beda negara. Meskipun negara tetangga, tapi tetep aja perlu paspor. Kalo kangen perlu modal! Bukan Cuma fitur chatting gratisan. Yang kesindir angkat tangan! 😀

Reka ulang pembicaraan yang terjadi kurang lebih adalah sebagai berikut :

Edi       : Elo sama suami lo pacaran berapa lama sebelum nikah?

Kieky    : Setaun lebih lah, abis itu nikah. Abisnya ngebet.

Edi ketawa. But by all means, saya emang ngebet nikah. Hahaha. I just can not wait to spend the rest of my live, days and nights with the person I love and loved me in return. Why wait? 😀

Kieky    : Kapan mau nikah? (Biasa, mentang-mentang udah nikah bawaannya nantangin orang lain yang belum nikah buat nyusul nikah. Ampun, Edi! ;p )

Edi       : Belum tau. Beberapa taun lagi lah. Nunggu kita siap. Cewek gue juga bilang beberapa taun lagi aja.

Saya langsung memutar kursi yang tadinya menghadap kaca, langsung berhadapan lurus dengan Edi. Kegiatan saya mencatok rambut saya tunda begitu saja.

            This is interesting.

Kieky    : Cewek elo yang bilang beberapa taun lagi aja?

Edi       : Iya.

Kieky    : Emang cewek lo umur berapa?

Edi       : Seumuran sama gue lah.

Kieky    : Gini ya.. (dengan sotoynya). Perempuan ngomong gitu karena ingin memberikan keleluasaan untuk prianya. “Beberapa tahun lagi.” Biar nggak terkesan nguber, biar nggak terkesan pengen banget sekarang juga dinikahin. Kalo elo lamar hari ini juga, jewer kuping gue kalo dia nolak. Pasti bilang iya.

Edi       : He?

Lalu kemudian banyak teman-teman kami berdatangan, dan semuanya pun harus segera bersiap untuk menjalani kegiatan kami di hari itu. Mungkin Edi saja sudah melupakan percakapan sekilas kami di pagi itu. Tapi itu justru yang seringkali terpikir oleh saya sampai sekarang.

Mengesampingkan fakta tentang kesiapan ekonomi, yang kalo ditunggu sampai malaikat Israfil meniup terompet kiamat juga pasti bilangnya belum siap, saya akan bahas kesiapan di bidang yang lain. Anggap lah, perekonomian sudah cukup. Cukup aja nggak usah berlebihan, yang penting cukup untuk kehidupan.

Banyak teman perempuan saya yang mencanangkan waktu beberapa tahun ke depan, bahkan nggak tanggung-tanggung. 5 tahun ke depan untuk menikah. Kalo blum punya pasangan, mungkin itu adalah waktu yang dirasa pas saat nanti bisa bertemu, berkenalan, mengenal lebih jauh, lebih jauh lagi, sangat jauuuh, dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Yang perlu diingat, umur kami sudah bukan sepantaran adek-adek Cherrybelle atau dedek-dedek belia JKT 48. Kami adalah Sheilagank yang sudah puber pada saat single Sheila on 7 – DAN dirilis. Nah itung sendiri deh tuh. :)))

Beda cerita kalau sekarang udah punya pasangan. Pasangan yang sudah layak nikah. Bukan pasangan yang baru coba-coba Trial and error. Pasangan yang sudah bisa membuat kita membayangkan, kualitas keturunan seperti apa yang akan kita hasilkan kalau kita melanjutkan kehidupan bersama dia. Again, why wait?

Nggak bosen tiap malem meluk guling yang nggak bisa meluk balik? ;(

Nih ya, para perempuan yang udah punya pasangan pria, yang adem ayem aja nggak ada progress dalam kelangsungan hubungan kalian berdua, copy link postingan saya yang ini lalu kirim ke dia. *kompor*

Perempuan mengambil sikap seperti itu (memberikan statement “yaaaah, nikah beberapa taun lagi lah”) karena tidak ingin bertindak agresif. Memberikan kendali kekuasaan kepada pihak pria, untuk menetukan kapan mereka berdua sebagai pasangan sudah siap untuk melangkah lebih jauh. Siapa yang bertugas untuk melamar? Pria. Nah makanya, bola ada di tangan Anda, para pria. 😉

Apakah Anda, para pria akan bertindak bijaksana dalam menyikapi keleluasaan yang diberikan oleh pasangan Anda? Tidak semua orang se-vulgar saya dan suami, yang terang-terangan dari awal emang pengen nikah, dan gayung bersambut. ;p

Mungkin Anda, para pria sedang beruntung bisa mempertahankan seorang perempuan yang memiliki kualitas terbaik yang Anda dambakan. Pertanyaannya Adalah, sampai kapan Anda akan terus beruntung? Siapa tahu perempuanmu justru akan menjadi sebuah keberuntungan bagi pria lainnya. Dunia itu bulat, apa saja bisa terjadi. 🙂

Jakarta, 14 Desember 2014
Kepada perempuan, berhentilah berteka-teki.
Kepada pria, mulailah peka membaca petunjuk.

Tinggalkan komentar

Filed under random, thoughts