Dua makhluk Tuhan bermain teka-teki. :)

Suatu pagi, saya terlibat pembicaraan dengan seorang teman di kantor/studio. Dia cameramen yang baru bergabung beberapa bulan terakhir. Padahal sama juga sih, saya juga bergabung belum ada setahun di perusahaan yang sama.

Saya sedang mencatok rambut – kegiatan rutin tiap pagi – saat sang cameramen masuk dan meletakkan barang bawaannya di ruang make up, yang sekaligus berfungsi sebagai tempat transit, sekaligus ruang curhat, sekaligus tempat menyimpan barang, sekaligus gudang, multifungsi sekali ya ruangan ini!

Anywaaaay, berhubung masih pagi dan belum banyak orang yang sampai di studio, tiba-tiba dengan randomnya kita ngobrol ngalor ngidul. Sebut saja namanya Edi.

Dari cerita yang saya tangkap, Edi menghabiskan 5 (atau 6 ya?) tahun terakhir di luar negeri untuk bekerja. Selama Edi bekerja di luar negeri, dia menjalankan hubungan jarak jauh. LDR, maaan! Long Distance Relationship! Dan berjalan mulus. Bravo! Di saat banyak pasangan yang tinggal sekota bahkan buat ngapel cuman perlu lima langkah aja bubar. Nah ini beda negara. Meskipun negara tetangga, tapi tetep aja perlu paspor. Kalo kangen perlu modal! Bukan Cuma fitur chatting gratisan. Yang kesindir angkat tangan!😀

Reka ulang pembicaraan yang terjadi kurang lebih adalah sebagai berikut :

Edi       : Elo sama suami lo pacaran berapa lama sebelum nikah?

Kieky    : Setaun lebih lah, abis itu nikah. Abisnya ngebet.

Edi ketawa. But by all means, saya emang ngebet nikah. Hahaha. I just can not wait to spend the rest of my live, days and nights with the person I love and loved me in return. Why wait?😀

Kieky    : Kapan mau nikah? (Biasa, mentang-mentang udah nikah bawaannya nantangin orang lain yang belum nikah buat nyusul nikah. Ampun, Edi! ;p )

Edi       : Belum tau. Beberapa taun lagi lah. Nunggu kita siap. Cewek gue juga bilang beberapa taun lagi aja.

Saya langsung memutar kursi yang tadinya menghadap kaca, langsung berhadapan lurus dengan Edi. Kegiatan saya mencatok rambut saya tunda begitu saja.

            This is interesting.

Kieky    : Cewek elo yang bilang beberapa taun lagi aja?

Edi       : Iya.

Kieky    : Emang cewek lo umur berapa?

Edi       : Seumuran sama gue lah.

Kieky    : Gini ya.. (dengan sotoynya). Perempuan ngomong gitu karena ingin memberikan keleluasaan untuk prianya. “Beberapa tahun lagi.” Biar nggak terkesan nguber, biar nggak terkesan pengen banget sekarang juga dinikahin. Kalo elo lamar hari ini juga, jewer kuping gue kalo dia nolak. Pasti bilang iya.

Edi       : He?

Lalu kemudian banyak teman-teman kami berdatangan, dan semuanya pun harus segera bersiap untuk menjalani kegiatan kami di hari itu. Mungkin Edi saja sudah melupakan percakapan sekilas kami di pagi itu. Tapi itu justru yang seringkali terpikir oleh saya sampai sekarang.

Mengesampingkan fakta tentang kesiapan ekonomi, yang kalo ditunggu sampai malaikat Israfil meniup terompet kiamat juga pasti bilangnya belum siap, saya akan bahas kesiapan di bidang yang lain. Anggap lah, perekonomian sudah cukup. Cukup aja nggak usah berlebihan, yang penting cukup untuk kehidupan.

Banyak teman perempuan saya yang mencanangkan waktu beberapa tahun ke depan, bahkan nggak tanggung-tanggung. 5 tahun ke depan untuk menikah. Kalo blum punya pasangan, mungkin itu adalah waktu yang dirasa pas saat nanti bisa bertemu, berkenalan, mengenal lebih jauh, lebih jauh lagi, sangat jauuuh, dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Yang perlu diingat, umur kami sudah bukan sepantaran adek-adek Cherrybelle atau dedek-dedek belia JKT 48. Kami adalah Sheilagank yang sudah puber pada saat single Sheila on 7 – DAN dirilis. Nah itung sendiri deh tuh. :)))

Beda cerita kalau sekarang udah punya pasangan. Pasangan yang sudah layak nikah. Bukan pasangan yang baru coba-coba Trial and error. Pasangan yang sudah bisa membuat kita membayangkan, kualitas keturunan seperti apa yang akan kita hasilkan kalau kita melanjutkan kehidupan bersama dia. Again, why wait?

Nggak bosen tiap malem meluk guling yang nggak bisa meluk balik? ;(

Nih ya, para perempuan yang udah punya pasangan pria, yang adem ayem aja nggak ada progress dalam kelangsungan hubungan kalian berdua, copy link postingan saya yang ini lalu kirim ke dia. *kompor*

Perempuan mengambil sikap seperti itu (memberikan statement “yaaaah, nikah beberapa taun lagi lah”) karena tidak ingin bertindak agresif. Memberikan kendali kekuasaan kepada pihak pria, untuk menetukan kapan mereka berdua sebagai pasangan sudah siap untuk melangkah lebih jauh. Siapa yang bertugas untuk melamar? Pria. Nah makanya, bola ada di tangan Anda, para pria.😉

Apakah Anda, para pria akan bertindak bijaksana dalam menyikapi keleluasaan yang diberikan oleh pasangan Anda? Tidak semua orang se-vulgar saya dan suami, yang terang-terangan dari awal emang pengen nikah, dan gayung bersambut. ;p

Mungkin Anda, para pria sedang beruntung bisa mempertahankan seorang perempuan yang memiliki kualitas terbaik yang Anda dambakan. Pertanyaannya Adalah, sampai kapan Anda akan terus beruntung? Siapa tahu perempuanmu justru akan menjadi sebuah keberuntungan bagi pria lainnya. Dunia itu bulat, apa saja bisa terjadi.🙂

Jakarta, 14 Desember 2014
Kepada perempuan, berhentilah berteka-teki.
Kepada pria, mulailah peka membaca petunjuk.

Tinggalkan komentar

Filed under random, thoughts

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s