Menghalau lalat

Berangkat dari sebuah postingan temen di Path, here we go.
Yang namanya mantan itu nggak ada abisnya kalau dibahas. Tapi kalo dibahas, resikonya dijewer pasangan. Hehehe.

In my defense, semua orang itu punya masa lalu.

Masa lalu apapun, itu yang menjadikan seseorang itu seperti sekarang. Yang terpenting adalah, bagaimana menjadi pintar dan bisa menempatkan masa lalu agar tidak mengganggu masa depanmu. Ini yang ribet.

Karena apa? Karena nggak semua masa lalu mengalah dan menurut pada keputusan kita untuk melupakan dan menghapusnya. Celaka lagi saat masa lalu itu bertaring, menancap, dan ogah melepaskan. Lintah penghisap darah! :))))

Pada awalnya saya berpegang pada prinsip, berhubungan baik dengan siapapun. Dengan mantan terngehek sekalipun. (Don’t excuse my language because I’m not asking any excuses.) Kenapa harus bermasalah? Toh semuanya sudah baik-baik saja, sudah tidak ada perasaan apa-apa, bahkan sudah tidak ada urusan apa-apa.

Mulia sekali ya saya. Tapi mulia itu bertetangga sama naïf. Bangunan rumahnya miriiip sekali. Hati-hati kalau tidak mahir membedakan, akan salah buka pintu.

Saya berpikiran, kalau saya baik-baik saja, tentu semuanya akan merasakan hal yang sama. Sampai pada akhirnya saya berpikir bagaimana ya seandainya saya ditempatkan dalam posisi yang sama. Bagaimana seandainya pasangan saya masih membina hubungan baik dengan mantannya, yang meskipun saya tahu sudah tidak ada perasaan apa-apa. Dusta besar, masuk antrian pertama pintu neraka, kalau saya bilang saya biasa-biasa aja. ;p

Adakah manfaatnya dari what so called sillaturahmi? Berpengaruh pada bertambahnya rekening tabungan dan masa depan? Atau justru berkurang? (amit-amit jabang bayi). Realistis saja. Manfaat tangible apa yang bisa didapatkan? Yang bisa dirasakan, paling dicemberutin sama pasangan. (ngaku!😀 )

Saya bisa meresapi perasaan seorang teman tentang rasa tidak terimanya, berkaitan seseorang di masa lalu pasangannya (suaminya). Saat itu dia sedang hamil tua. Bukan. Suaminya tidak berselingkuh, saya berani jamin. Hanya saja, sebagai laki-laki dia kurang tegas. Kurang kokoh dalam memberikan perlindungan bagi istrinya. Tapi bisa apa kalau masa lalunya tersebut bernyawa, memiliki banyak tuntutan dan keinginan, pun masih disambut tiap kali mencoba mencari jalan masuk? -___-‘

Tidaklah perlu membuka percakapan, bukan memutuskan tali silaturahmi, cukuplah membiarkannya saja di tempat yang sama. Diamkan saja. Tanpa perlu dikulik-kulik dan ditengok lagi. Ada yang perlu dihormati, yaitu komitmen diri sendiri untuk menjaga dan membahagiakan pasangan.

Tidaklah apik dengan sengaja melakukan hal yang dengan pasti kita tahu, mengakibatkan ketidaknyamanan pada pasangan.

Saat ada lalat mendekat, dengan refleks kita mengibaskan tangan, agar lalat tidak semena-mena hinggap di makanan milik pasangan. Kita tidak tahu penyakit macam apa yang dibawa, di mana terakhir kali dia memijakkan kakinya? Comberan, itu masih salah satu pilihan baik. Masih ada pilihan menjijikkan lainnya.

Lalat saja kita halau.
Paham kan?🙂

Jakarta, 7 Maret 2014
Baru di post 20 Maret 2014 ;p

1 Komentar

Filed under random, Uncategorized

One response to “Menghalau lalat

  1. saya juga gak ngerti sama mantan yg masih pengen jaga tali silaturahmi. padahal kenyataannya berinteraksi aja jarang. yang ada malah bawa masalah ke hubungan yg sekarang😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s