metode

Firman masih duduk di tempat yang sama. Tidak bergeser barang satu centimeter dari tempat semula. Imajinasinya terpecah dan beredar dengan poros masing-masing, berputar mencoba mencari penyelesaian dari sekian banyak masalah yang seakan meledek dan sengaja kompak untuk memberikan kejutan dengan datang bersamaan.

Bukan surprise seperti ini yang aku maksud, Tuhan.

Firman mengeluh dalam hati, bahkan dalam membatin perkataan pun dia masih sopan. Takut dengan membentak Tuhannya justru akan semakin enggan untuk menoleh dan mengangkat barang sedikit beban kehidupan.

Persetan dengan ulang tahun. Persetan dengan peringatan setahun sekali tentang pertambahan usia. Aku menolak menua. Aku menolak semua perubahan yang terjadi mendadak tanpa persetujuan.

Firman mulai tidak sopan.

Mendengus, kemudian mengerang perlahan.

Pertahanan terakhir Firman pecah. Saat dia marah kepada Tuhan, kepada siapa lagi dia harus mengadu? Firman kemudian mulai berdoa dan menguraikan belitan persoalan satu persatu. Ia merasa masih banyak manusia lain yang lebih pantas untuk ‘ditegur’ sama seperti cara ia ditegur akhir-akhir ini.

Kehilangan pekerjaan di waktu yang tidak tepat. Tapi hey, sejak kapan ada waktu yang tepat untuk kehilangan sumber mata pencaharian? Harus merelakan seorang makhluk indah terpuji tanpa cela yang ternyata tanpa basa-basi memilih untuk berkalang dosa daripada harus menerima cintanya. Ah, Firman menggelengkan kepala.

Menarik nafas lagi untuk kemudian meneruskan ceritanya, satu persatu.
Entah didengarkan atau tidak, Firman hanya ingin semesta tahu; kalau dia masih percaya akan adanya kekuatan besar yang mampu mengayomi semesta, tidak akan mungkin melewatkan tubuhnya yang kecil, sepersekian bagian yang menuntut diperhatikan.

Kau dengar aku Tuhan? Mungkin lama kita tidak saling bersentuhan.

Kalau saja ada 1 kata yang bisa dimasukkan dalam kamus “Kata-kata yang mudah diucapkan tapi entah bagaimana bisa diterapkan.”, Firman akan mencantumkan ikhlas di halaman pertama nomor ter-atas.

Menoleh ke sebelah kiri, Firman meraih dunianya sendiri. Membiarkan dirinya tersedot dalam dimensi dunia sempurna rekaannya. Dimana tidak ada rasa sakit, kecewa, ditinggalkan. Dunia tanpa cela. Firman menggoreskan pensilnya perlahan. Membentuk sebuah gambar, imajinasi bagaimana seharusnya dunianya berjalan. Firman melompat masuk, terjebak, untuk kemudian menolak diselamatkan.

Jakarta, 25 Desember 2012
Untuk semua pemimpi.🙂

3 Komentar

Filed under fiksi, random

3 responses to “metode

  1. motulz

    Wah kalo ada goresan pinsilnya keren nih😀

  2. keren,,, bakat terpendam nih,,, udah cantik jago nulis pula…😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s