hanya memuji

 

Pernah mengagumi seseorang tapi nggak mencari kesempatan untuk mengutarakan? Pasti semua pernah. Mulai dari pemuja rahasia sampai cinta yang nggak kesampaian.

 
Saya? Ya pernah lah.
Saya termasuk orang yang gampang jatuh simpati sama seseorang. Kita kerucutkan, seseorang di sini adalah lawan jenis ya. Meskipun nggak menutup kemungkinan juga kalau saya juga bisa simpati seketika dengan perempuan juga.
 
Anyway, 2009 saya mengenal sosok ini. Langsung kagum. Setiap sahabat saya juga pasti tahu siapa yang dimaksud. Tapi untunglah waktu itu keahlian ‘stalking’ saya belum terasah tajam seperti sekarang. Saya hanya pasrah menunggu kapan kira-kira akan dipertemukan dan bisa berkenalan.🙂
 
2010, terimakasih pada alam semesta beserta dengan segala kebetulannya saya bisa dengan mudah mengakses informasi tentang si misterius ini via twitter. Mengamati, mengagumi, mengamati, mengagumi, berulang saja seperti itu.
 
Sebagai catatan, 2007-2012 (awal) saya berstatus pacar seseorang lho. Mungkin itu juga yang menahan saya untuk tidak mengambil tindakan lebih lanjut.
 
2012, saya berkesempatan untuk mengenal dia lebih lanjut. Ngobrol. Tatap muka. Gila!
Beribu maaf saya haturkan kepada para sahabat yang saya banjiri curhat segala macam rupa, mulai dari chat bbm, foto2, sampai voice note. Waktu itu, saya gila. Nggak jarang saya mendedikasikan lagu terakhir saat siaran untuk dia yang seringkali sengaja mendengarkan. Nggak boleh protes. Di sinilah privilege penyiar. ha!
 
Sampai mana tadi? Oh iya, 2012.
Saya tahu apa yang saya punya dengan dia tidak akan berlanjut ke mana-mana. Tapi memang itulah hakekat pemuja rahasia. Mengagumi dari kejauhan. Mengamati dan menikmati.
 
Sekarang, kurang lebih itu yang saya lakukan.
Sesekali dia menyapa saya terlebih dahulu. (ya, saya menahan diri untuk nggak memulai segala macam bentuk interaksi).
Di usia nya yang masih sangat muda, sering saya terkagum-kagum dengan pola pikirnya. Pendapatnya selalu menusuk tepat ke inti sasaran, membuat saya kepayahan.
 
Ada 1 kesamaan yang sedang kami lakukan. Berjuang dan mempertahankan cinta masing- masing sampai entah kapan. Kurang lebih kami berdua sedang mengalami hal yang sama. Memperjuangkan mati-matian karena sudah pernah tahu bagaimana indahnya diperjuangkan. Sering saat kehabisan kekuatan, kami saling menguatkan, dan berharap semua akan kembali seperti awal mula, saat keraguan belum mulai campur tangan di dalamnya.
 
 
Untuk kamu, selamat berjuang.
 
Dan untuk kalian yang membaca, ini bukan cinta, ini memuja.🙂

3 Komentar

Filed under Uncategorized

3 responses to “hanya memuji

  1. Kenapa nggak membuka hati untuk memulai percakapan?

  2. standar (dia) terlalu tinggi. lebih indah memuja saja tanpa ada harus termiliki..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s