Gendhing

Ratri lahir dan dibesarkan di desa Gambiranom, jauh dari peradaban. Kota Jogjakarta hanya 1 jam perjalanan dengan naik mobil, atau dikali tiga saat harus menggunakan delman. Ratri hanya mendengar dari tetangga sekitar, di kota sana, ada keraton, megah, mewah. Ratri bercita-cita suatu saat nanti ia ingin melamar menjadi abdi dalem, bagaimanapun caranya. Ratri yang malang, tumbuh dewasa dengan harapan menjadi abdi dalem, tanpa tahu, bukan saja harus mengantri bersama calon abdi dalem yang lain, tapi ternyata juga harus memiliki hati yang suci, suatu hal yang ditakdirkan berseberangan dengan keinginan Ratri.

 

Apik ya namanya. Artine opo, cah ayu?”, tanya Ridho – pemuda tanggung yang ditemuinya beberapa saat yang lalu saat ingin mendaftar menjadi abdi dalem.

“Malam. Artinya malam.”

“Kalau boleh diganti, pengen’e jenengmu dadi sopo?”, pemuda itu memberanikan diri menggeser duduknya merapat pada Ratri.

Tanpa merasa jengah, Ratri tersenyum dan memandang Ridho lekat.

“Menurutku, Gendhing itu pas jadi namamu lho. Suaramu ngomong aja merdu, nek nyanyi mesthi apik. Gendhing. Cocok buat kamu.” , meraba tangan Ratri, kemudian meremasnya.

 

Pemuda seperti ini, pemuda yang memiliki rasa percaya diri terlalu tinggi. Inilah yang selama ini dikhawatirkan oleh ibunya. Ibu Ratri selalu mewanti-wanti untuk bisa menjaga diri. Apalagi saat sekarang ini, di sebuah kota besar, sendirian. Kemana harus bertanya, kemana harus pulang.

Ridho merapatkan duduknya pada Ratri dan menyenggol halus kakinya.

 

“Anterin aku pulang wae yuk.”, Ratri berdiri, mengamit tangan Ridho.

Dasar pemuda ingusan, baru begitu sudah belingsatan.

“Kamu ndak mau maem dulu to?”, Ridho bertanya.

“Nggak perlu, nanti makan di rumah saja.”, sahut Ratri santai.

Meh naik opo? Udah malem lho ini.”, Ridho berusaha mencari-cari angkutan umum atau delman atau mungkin becak yang sekiranya bisa mengangkut mereka berdua.

“Rumah saya deket kok, sebentar lagi sampai.”

Untung saja Ratri hanya diperbolehkan untuk ikut mendaftar menjadi abdi dalem keraton sekali dalam setahun. Kalau tidak, entah harus berapa kali bertemu dengan pemuda semacam Ridho ini. Ibu, bibi, bahkan kakak-kakak Ratri selalu menceritakan dengan penuh emosi, pria-pria seperti apa yang mereka temui di kota sana. Ah, akhirnya Ratri menemui, dengan mata kepala sendiri.

 

“Kita sudah sampai.”, Ratri berjalan dua langkah di depan Ridho.

Walah, cepet temen.”, Ridho menyusul langkah Ratri.

Di depan pintu, tampak Ibu, bibi dan kakak-kakak Ratri sudah menunggu. Mengenakan kebaya terbaiknya seperti menyambut tamu besar, tamu istimewa.

Monggo silahkan masuk.”, sedikit menunduk ibu Ratri memberikan penghormatan kepada tamu, seorang pria yang baru dikenal anaknya.

Ridho mengangguk senang. Sambil diperkenalkan satu persatu kepada kakak Ratri, Anjani, Dewanti, Annisa, Mutia. Semua berparas ayu, dengan keunikan masing-masing.

Anjani dan Dewanti yang tinggi, tapi hanya Anjani saja yang berhidung bangir bak orang luar negeri. Annisa dan Mutia berbeda lagi, Annisa menawan dengan kulit cokelatnya, dan Mutia yang mungil dan berkulit sawo matang. Semuanya sama. Cantik.

“Selamat datang di desa Gambiranom.”, ujar ibu Ratri sambil tersenyum, dan menutup pintu.

Ridho terkesiap.

 

Legenda itu nyata. Legenda desa yang tidak pernah diketahui keberadaannya. Seharusnya dia sadar sejak tadi, kenapa tidak ditemui sesosok pria pun di desa ini. Peraturan di desa Gambiranom konon katanya cukup sederhana. Pria yang masuk, tidak akan mungkin menemukan jalan keluarnya, itu saja. Hilang termakan sejarah, dimulai dengan dikabarkan hilang.

“Sebagai penghormatan, akan kuberi nama anak kita nanti Gendhing.”, kata-kata terakhir yang didengar oleh Ridho diucapkan oleh Ratri. Calon ibu dari anaknya nanti yang bahkan tidak akan sempat dia lihat sosoknya yang mungil, yang kemudian tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang cantik, untuk melanjutkan garis keturunan desa Gambiranom.

 

Jakarta, 6 September 2012

11:55

(Penokohan, nama lokasi dan situasi hanya karangan fiksi saya pribadi. Mohon untuk tidak dimasukkan ke dalam hati, tapi tidak bertanggung jawab kalau sampai menyusup ke dalam mimpi.)

Tinggalkan komentar

Filed under dongeng, fiksi, G30HM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s