Raja

Jakarta, pagi, coffee shop, bangku paling pojok dekat kaca.

 

2 sahabat yang lama tidak berjumpa saling berlomba untuk memberi tahu kisah terbarunya. Pria dan wanita, memiliki hubungan istimewa, tapi bukan cinta yang terselip nafsu di dalamnya.

Si perempuan berbinar-binar antusias menceritakan apa yang baru-baru ini terjadi di kehidupannya. Sedangkan si pria mengangguk tiap beberapa kalimat sebagai pertanda dia mengerti apa yang coba disampaikan oleh si sahabat.

Pertemuan yang belum tentu terjadi setiap 6 bulan sekali ini terasa istimewa bagi Cahya dan Ray. Selisih usia di atas satu dekade tidak lantas membuat keduanya canggung untuk beradu argumen dan tertawa-tawa setiap saat argumen yang disampaikan tidak pernah terselesaikan dengan satu kesimpulan.

So, how’s your life?” , Ray akhirnya mencoba membuka mengajak Cahya untuk naik level dan sedikit serius.

Well, messy.”, Cahya sedikit tidak perduli sambil memainkan sedotan minumannya.

How messy?” , Ray mencondongkan badan ke depan sambil meneliti raut muka sahabatnya.

I screwed up.”. Cahya menyenderkan badan ke sofa. Nyaman. Nyaman sampai rasanya ia ingin melupakan saja yang terjadi di dunia luar sana, dan tenggelam di dalamnya.

Ternyata, bukan rasa nyaman yang dihasilkan oleh sofa yang memeluk erat tubuhnya. Tapi ternyata rasa nyaman karena diperhatikan. Ternyata masih ada yang mencoba untuk sekedar meluangkan waktu demi menanyakan kabar.

Seperti biasa, alam bawah sadar kemudian mengambil alih dan menarik Cahya untuk menceritakan semuanya. Cahya terjebak dalam mimpi yang diciptakannya. Mimpi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah dia melepaskan apa yang dipunya. Masa depan sempurna dengan Aldo, yang akhirnya dilebur dan harus menyerah atas dasar kebosanan.

Ray mengangguk.

Cerita masih mengalir deras. Cahya dan 2 pilihan yang membuatnya masih susah melangkah. Memutuskan untuk mengolah sesuatu yang masih mentah, atau justru memantapkan hati dan memilih suatu kehidupan yang layak bagi hati dan pikirannya.

Cahya terjebak di antara 2 pria. Bima dan Arya. Bima dengan segala kedinamisan jiwa yang muda, berontak, tapi bisa membuat Cahya bertahan dan menunggu sampai dia lelah bertualang dan pulang. Arya, sosok pria yang sudah pernah merasakan kegagalan cinta, yang telah menunggu Cahya dengan sabar untuk memberinya kesempatan masuk ke dalam kehidupan dan membahagiakan, ya..Arya dengan status duda-nya.

Ray masih mengangguk.

Now I get the point.”, Ray tersenyum dan menghimpun kata-kata agar bisa sampai tepat sasaran.

Bima is the king, Cahya. Dia hebat, dia tahu kalau dia hebat, dan sayangnya dia mengakui kalau dia hebat.”

Cahya memicingkan mata mencoba mencerna.

“Seorang raja tentu tahu bagaimana dia harus memperlakukan seorang puteri. Tentu akan banyak puteri yang bisa dia bahagiakan, dia istimewakan. Tapi jangan lupa, kamu bukan puteri. Kamu ratu. You’re the queen, and you deserve someone who can treat you as a queen. Not a princess.”

Cahya mulai mengerti arah pembicaraan.

“Di sisi lain, Arya. Dia tentu akan bisa memperlakukanmu bagai Ratu, karena di sini pengalaman yang bicara. Tentu saja dia akan dengan sabar menunggu, karena tidak ada lagi yang dikejarnya. Kesampingkan status pernikahannya. Dengan kata lain, menikah dan membangun sebuah istana untuk kalian berdua bukan lagi menjadi prioritasnya.”

Cahya tidak terima. Tapi, didiamkannya saja.

“Sekarang, apa sudah ada cinta?” , Ray bertanya.

Cahya diam.

Mereka berdua diam.

Ray memberi Cahya waktu untuk kembali sibuk dan mempertimbangkan.

“Lepaskan keduanya.” , celetuk Ray.

“Hah?!”, sambar Cahya

“Jangan berkutat dengan satu masalah yang itu-itu aja. Hidup kamu masih panjang, my dear. Masih banyak hal lain, atau mungkin orang lain yang akan kamu temui. Jangan limbung. Jangan pernah merasa tidak bisa sendiri. Kamu selalu punya orang yang bisa diandalkan, tidak selalu pasangan.” , Ray mencoba menyelesaikan kalimat yang disampaikan.

“Ray cerita ya, ada 1 hal yang sepertinya harus kemu terapkan. Emotionally discipline. Tahu mana yang layak mendapatkan perhatian, mana yang cuma layak diperhatikan sekilas jalan. Sekali kamu udah bisa menerapkan itu, trust me there’s nothing you can’t do. You can get any king you want just like flipping your hand. As a friend, I love you, but you should love yourself too.”

Cahya tertampar.

Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mempetimbangkan suatu masalah, mungkin memang benar. Seharusnya sudah sejak lama Cahya tahu apa yang terbaik, apa yang harus dilakukan.

Cahya tersenyum.

Ray tersenyum.

Mereka berdua kembali berbicara dan memulai topik yang lainya.

Peduli setan topik apa yang dibahas kemudian, yang pasti sekarang ini Cahya sudah menarik suatu kesimpulan.

Dia akan bertemu Raja nya, suatu hari kemudian.

 

 

Raynando Saragih.

Terima kasih untuk obrolan dadakan. Saat nanti kita ketemu, pasti udah ada satu atau dua perkembangan.🙂

 

Jakarta, 17 Mei 2012

Random keyword from @fajar222

Tinggalkan komentar

Filed under fiksi, random

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s