Inspirasi dadakan

Saat kepengen nulis dan buntu, Tuhan itu Maha Tau.

Pengertian banget deh, itu dibuktikan dengan SMS yang masuk (iye, nggak semua orang mengandalkan fitur gratisan buat texting. Lah, kenapa nyolot yak.) – dari seorang teman. Well, bukan teman sih. Lebih tepatnya sahabat. Nanti di lain waktu akan saya ceritakan awal mula pertemuan kami, dan gimana ceritanya kami bisa bersahabat kurang lebih 13 taun berjalan ini! Wow! Lebih dari separuh hidup saya. (Udah, nggak usah mulai itung2 an umur di sini.)

 

“Alamat pos buat kirim undangan” – sms yang sangat singkat, tanpa mau repot-repot membubuhkan tanda baca di sana.

 

“Undangan opo?” – saya membalas nggak kalah singkat, sambil mencoba meredam gengsi ingin tahu. Ya undangan macam apa lagi yang coba repot-repot dikirimkan seorang sahabat dari Ambarawa sana ke Jakarta kalau bukan undangan pernikahan.

Nggak sampai 1 menit, telephone berbunyi.

 

“Aku meh nikah, nduk.”, sapaan pertama yang saya dengar.

Whuuaaattt!!!??

Setelah itu kami ngobrol lumayan panjang yang berisi rasa tidak percaya. Sampai akhirnya saya kaget sendiri karena belum mengucapkan sebuah kalimat sakral yang selayaknya diucapkan seorang sahabat..

 

“Waah, selamat yaa.”

Kemudian percakapan diisi dengan ungkapan ketidak relaan saya karena keputusan menikahnya yang relatif cepat. Paling nggak menurut saya. Dalam waktu…40 hari lagi! Dia akan jadi suami orang! Suami orang! Taken! Nggak single lagi. Menyeng.

 

Iya saya senewen. Saya senewen karena semakin banyak sahabat yang ditarik paksa dari kehidupan saya demi kebahagiaan mereka. Saya emang egois sih, karena saya terbiasa (merasa) diutamakan.

 

Sedih, karena semua harus berubah. Nggak mungkin lagi dong dengan seenaknya saya minta dijemput di airport sama suami orang tiap saya pulang ke Semarang. Nggak mungkin lagi saya bisa saling ngobrol kesana-sini karena ruang lingkup percakapan pasti juga sudah terbatas. Nggak mungkin lagi dia concern dengan segala drama kehidupan saya. *yaiyalaah, situ siapa* Hehe.. Satu lagi, orang yang selama ini dekat, akan menjadi orang yang sedikit tidak terlalu dekat.

 

Pertemanan yang sangat jarang saya temui karena selain *uhuk* selisih umur satu dasawarsa, hehe. Orang ini sudah ada di kehidupan saya sejak saya masih piyik banget. Dari saya yang polos dan lugu, sampai sekarang jadi sok polos dan sok tau. Dia ada di tiap chapter masa-masa itu.

 

Yang terbaik seorang sahabat bisa lakukan adalah, mendoakan. Pasti dong saya mendoakan yang terbaik untuk dia. Saat nanti dia akan menjadi seorang kepala rumah tangga, membina keluarga kecilnya, punya anak-anak yang lucu yang mau nggak mau saya harus sayang juga. *eh?

 

Tapi serius, hubungan saya dengan anak kecil jarang berjalan dengan mulus, nggak tau kenapa. I just don’t get along with kids. Tapi kalo anaknya sahabat sendiri, entah kenapa mendadak muncul rasa sayang. Lucu tau, dapet bentuk mini nya sahabat kita sendiri. Yang kalo dicubit nggak akan bisa ngebales. Haha. Kidding.

 

Galih Pranajaya,

Semoga lancar dengan segala proses keribetan menjelang pernikahannya. Pasti setress kaaan? Apa? Enggak? Ahhh, belom aja tuuh. Tunggu aja bentar lagi. ;p

Semoga selalu diberi berkah yang melimpah, bahagia lahir bathin, selamanya!

Amin sodara-sodara?

 

Jakarta, 16 April 2012

4 Komentar

Filed under random

4 responses to “Inspirasi dadakan

  1. galih

    cah gemblung….

  2. syam guiters

    mantappp deck kieky menginspirasi apa yang ada dalam pikiranya sendiri..kreatifitas good..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s