Kamu, Rumahku?

Rumah itu berdiri dengan kokoh dan angkuhnya. Tidak heran, terpaan angin, hujan, badai dan berbagai keadaan menjadi salah satu pengesahan baginya berbuat demikian. Ratri, perempuan muda yang bukan siapa-siapa ini ragu. Akankah dia memutuskan untuk masuk dan mencoba meninggali atau justru melangkah pergi? Rumah itu tampak besar, luas, tapi dingin dan kosong. Ratri takut, rembesan ‘dingin’ dari sosok rumah itu juga akan membuatnya angkuh dan berubah jadi sosok yang seolah tidak memerlukan siapapun.

 

Entah sejak kapan rumah itu ada. Rumah yang tidak sengaja ditemuinya saat sedang tersesat ingin pulang ke rumah lamanya. Ya, waktu itu Ratri tersesat dan mencoba mencari bagaimana cara untuk kembali. Tapi Ratri lupa, entah dimana ia meninggalkan penunjuk jalannya. Pun, dia rasa rumah yang lama kini sudah tidak menarik lagi. Mungkin akan ada penghuni lain yang bisa meninggali dan membuat rumah lama Ratri ‘hidup’ kembali. Akhirnya Ratri melangkah menjauh dan mencoba mencari rumah pengganti.

 

Sekarang, Ratri masih berdiri di tempat yang sama, di ujung jalan masuk rumah ini. Ratri menggigil. Aura dingin dari rumah kokoh tersebut tidak dapat dipungkiri. Megah. Sangat megah. Ratri mulai memutar otak sendiri bagaimana caranya dengan cepat menjadikan rumah ini menjadi layak huni. Oh, mungkin dengan perlahan-lahan mengganti semua warna dinding muram di dalamnya. Lalu sudah terpikir olehnya akan membuka semua pintu dan jendela agar bau apak kenangan yang tertinggal dari pemilik sebelumnya akan hilang atau paling tidak membias keberadaannya. Ratri, naif tapi tidak pernah mencoba menghakimi.

 

Dengan masuk ke dalam rumah itu, tidak hanya Ratri, tapi rumah tersebut juga harus berusaha menyesuaikan diri. Ratri mundur selangkah untuk mengamati situasi, akankah ada sesuatu yang menghalanginya merapikan rumah ini. Perlahan, setiap sudut rumah dia rapikan. Bersihkan dari semua debu peninggalan pemilik sebelumnya. Beberapa barang yang tidak sengaja diwariskan dibiarkan saja karena ternyata membuat rumah tersebut justru semakin apik kelihatannya.

 

—————

 

Ratri memandang rumah tersebut dari kejauhan. Rumah yang kokoh dan angkuh masih sama kelihatannya. Tidak banyak yang Ratri bisa lakukan. Hanya sedikit sentuhan minimalis kehangatan sudah Ratri tinggalkan. Entah apakah nanti akan diubah, diganti, atau dihilangkan sama sekali, Ratri mencoba tidak perduli. Berat rasanya harus meninggalkan rumah ini. Rumah yang sempat disangka akan jadi tempat persinggahan terakhir Ratri. Mungkin penghuni berikutnya akan jadi orang yang lebih memahami, apa yang sebetulnya dibutuhkan oleh rumah ini. Tapi untuk sekarang, Ratri menyerah kalah dan melangkah pergi.

 

 

Jakarta, 8 April 2012

Kamu, aku, pilih jadi Ratri atau rumah itu?🙂

 

 

1 Komentar

Filed under Uncategorized

One response to “Kamu, Rumahku?

  1. luvy

    tidak keduax

    dia akan mexsal saat rumah itu di huni orang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s