Emas

Gelap, sejuk, sepi.

Beberapa sahabat sedang saling asik terlibat perbincangan mengenai kehidupan mereka masing-masing. Tanpa ketinggalan mencoba sedikit menyombongkan apa yang membuat dirinya istimewa tapi tetap halus dan menyaru dalam cerita.

“Memang sih, aku baru dalam kehidupannya. Tapi lihatlah, tanpa perlu banyak berusaha aku selalu bisa membuatnya bahagia.”

“Ooh, kalo begitu aku juga bisa. Dulu aku yang paling utama. Selalu bersanding dengannya di tiap acara istimewa.”

“Kalian ini, tahu apa. Meskipun kemewahan bisa kalian tawarkan, tapi tetap kesederhanaan yang dia utamakan. Lihat saja, selalu aku yang selalu diajaknya dalam keseharian. Aku yang paling tua, dan aku yang paling mengerti dirinya.”

 

Perang pendapat kemudian tersulut dengan cepatnya. Tanpa harus ada yang memulai, begitulah yang mereka kerjakan sehari-hari. Terlebih lagi saat mereka membahas sosok perempuan yang sama, Dewi.

Persaingan untuk mendapatkan perhatian perempuan pujaan yang sudah terlanjur memiliki. Tanpa terlewat barang satu hari, mereka selalu berdoa agar jadi pilihan utama Dewi. Perempuan yang entah bagaimana bisa beruntung dengan tiba-tiba; dari sederhana kemudian memutarbalikkan roda nasib menjadi sebaliknya. Dewi sekarang, menjadi salah satu perempuan mendadak kaya di Jakarta.

 

Terang, sejuk, masih sepi.

“Hmm..kali ini aku mau ajak siapa yaa. Pertemuan kali ini istimewa. Pertemuan pertama adalah awal segalanya. Salah satu di antara kalian harus mendampingiku malam ini. Menemui seseorang yang mungkin akan jadi jodoh, atau persinggahan sepintas lalu yang selama ini terjadi.”

Dewi membuka kotak perhiasannya. Giwang, kalung, cincin, liontin, semuanya dia amati. Jemari lentiknya menelisik ke dalam gundukan kecil perhiasan yang selama ini dikumpulkannya, entah dari siapa saja dia sudah lupa.

“Apapun yang terjadi, malam ini.. Ya, malam ini.. Aku akan pergi dan pulang membawa penghuni baru barang satu atau dua lagi. Masih cukup kan ruang tersisa di sini.”

Giwang, kalung, cincin, liontin, entah apa lagi menatap Dewi sedih. Seharusnya sudah sejak lama dicukupkan saja petualangan dan pengalaman atas nama penghidupan diri sendiri. Mereka tidak tahu apalagi yang dicari Dewi.

Kotak perhiasan ditutup kembali.

Mereka mencoba untuk tidak memikirkan apa yang akan dilakukan Dewi. Dengan siapa dan kemana dia pergi malam ini. Lebih baik mereka mengisi waktu seperti biasa, dengan perdebatan siapa yang paling istimewa di mata Dewi, sang empunya.

 

Jakarta, 25 Maret 2012

22:22

Random keyword from @fajar222

 

1 Komentar

Filed under fiksi, random

One response to “Emas

  1. Fajar Bayu Wibowo

    Hebaattt nulis cm beberapa menit…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s