Kusut

Ngomong itu emang paling gampang. Well, kalo buat saya sih tergampang nomer dua setelah nulis. Karena nulis nggak terlalu perlu banyak effort, cuma modal otak dan jari. Dan..pembahasan mulai nggak fokus.

 

Maksudnya gini, sering kali kita terjebak dalam situasi dimana kita harus memberikan nasehat yang super brilian buat seseorang yang lagi cerita sama kita. Meskipun tanpa diminta, saat orang menceritakan permasalahannya, datanglah sosok pahlawan kesiangan yang berlagak tau semuanya. Iya, itu saya. *nyengir*

 

Seneng dong, jadi salah satu orang yang dipercaya untuk mendengarkan curhat dari sahabat atau sekedar teman saja.🙂 Terus terang saya bahagia karena bisa jadi salah satu alternatif yang terpikir saat orang terebut ingin berbagi cerita. Masalahnya, sering saya nggak menduga pokok persoalan yang sedang dibahas itu sebenernya ada di sekeliling saya. Ya, saya terlibat di dalamnya. Saya ikut andil untuk memperumit masalah itu pada awalnya, dan entah bagaimana saya merasa bertanggung jawab untuk ikut memberikan solusinya.

 

Saat seorang teman datang dengan muka berbinar-binar menceritakan kisah cintanya, tentu itu kisah yang bahagia. Saya bahagia, saya ikut senang, sampai saya tahu nama siapa yang disebut. Ya, orang yang sama yang pernah dekat dengan saya beberapa waktu sebelumnya.

 

Emang sih, nggak pernah terjadi kisah apa-apa antara saya dengan orang yang disebut di dalam ceritanya. Tapi paling tidak status pertemanan kita (saya dan si pria) sudah pernah mengambil ancang-ancang untuk langkah selanjutnya, sampai saya tahu kalau pria itu belum sepenuhnya menyelesaikan kisah cinta dengan perempuan sebelumnya. DAMN!

 

Sosok pria yang saya kagumi dengan berbagai talenta, yang selalu berusaha membuat saya merasa istimewa dengan karya-karya yang dibuatnya. Pria yang sama, yang sudah mengecewakan saya. Nggak pernah ada bentrokan emosi tanpa kendali di sana. Kami berbicara dari hati ke hati dan mengambil keputusan yang paling tepat, menyudahi.

 

Dengan masih memasang muka super biasa saya mencoba untuk tetap objektif memberikan masukan, bagaimana agar teman saya ini bisa tetap optimis untuk merintis cinta nya berdua. Sesaat setelah teman saya ini selesai berbicara, telephone berbunyi. Ya, dari si pria yang menjadi objek pembicaraan itu, mengajak saya untuk bermalam minggu.

 

Jakarta, Maret 2012

 

To whom it may concern.

I’m done with you. You had your chance, and you blew it away. Just be happy with your someone, will ya..🙂

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s