Reinkarnasi.

“Aku cinta kamu.”

“Aku juga.”

“Kamu percaya manusia dilahirkan berpasang-pasangan?”

“Kenapa tidak?”

“Apakah cinta itu kuat melawan ujian?”

“Harus.”

“Apakah rentang jarak dapat dikalahkan?”

“Selayaknya begitu.”

“Bagaimana dengan rentang usia?”

“Seharusnya tidak ada yang mempermasalahkan itu.”

“Kita tidak, tapi pasti dunia yang mempermasalahkan.”

“Apa sih yang nggak jadi permasalahan bagi semesta?”

Kedua nya diam.

“Aku harus pulang.”

“Aku juga.”

“Besok kita bertemu lagi di sini?”

“Kalau waktu mengijinkan.”

 

Raka berlari ke ujung taman kemudian langsung naik ke dalam mobil sedan yang berhenti di depannya.

Lia berjalan menyusuri jalan setapak, menggandeng anak semata wayangnya. Cukuplah berjalan-jalan sore kali ini.

Terpisah jarak, seorang anak mencium tangan ibunya.

 

“Kamu tadi belajar apa di sekolah?”

“Nyanyi, gambar, macem-macem! Aku udah bisa gambar jerapah dong, Ma.”

“Waah, pinter. Nanti sampe rumah langsung mandi terus bikin gambar Jerapah, kita tunjukkin ke Papa ya.”

 

Sesaat setelah mobil melaju, Raka bersedekap. Memandang punggung Lia yang menjauh pergi bersama putra nya. Biarlah hari ini berakhir di sini. Mungkin besok nasib akan berbaik hati. Yang pasti, dia harus menunjukkan gambar jerapah terbaiknya untuk sang ayah malam nanti.

 

Jakarta, 3 Januari 2012

22:28

1 Komentar

Filed under dongeng, fiksi, random

One response to “Reinkarnasi.

  1. galih

    I like your freestyle trple X writing style…refreshing,….it’s like you’re on a rollercoaster right after having sex….hihihihihi, dont worry it’s a complement

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s