Wejangan Dayang

Anak-ku, berhati-hati lah akan tutur laku dan tingkah lakumu. Percayalah, semua akan ada yang mencatatnya. Dia yang selalu berdiri di samping kirimu akan mencatat keburukan dan segala sumpah serapahmu. Niat burukpun tak akan luput untuk ditulisnya. Lihatlah, berlembar-lembar tulisan telah dihasilkannya.

 

Sekarang tengoklah ke samping kananmu. Kamu tak mengenalnya? Oh, mungkin karena terlalu jarang bertegur sapa. Dialah si pencatat segala kebaikan yang telah kau lakukan. Jangan berkecil hati melihat hanya ada selembar kertas di tangannya. Masih banyak kesempatan untuk membuatnya bersaing dengan si pencatat sebelah kirimu. Tapi ingat anak-ku, sampai saatnya nanti kau harus terus berpacu dengan waktu.

 

Tentu tidak ingin bukan, sekonyong-konyong nasib menyambarmu? Tanpa perduli tentang suatu akhir kesimpulan yang sempurna, semua fakta dikumpulkannya. Menimbang kiri dan kanan, mana yang lebih berat? Akankah kau terlempar ke bawah, atau justru terangkat ke atas?

 

Kalau boleh kutambahkan satu lagi pesanku, jangan pernah mengagung-agung kan cinta pada sesama mu. Hanya penciptamu yang berhak mendapatkan itu. Sekuat, sehebat, se-sakti apa, semua luluh lantak dalam 1 kedipan mata saja. Anakku, ke-agunganmu tidak ada apa-apanya dibanding Dia.

 

Kalau memang kau tidak bisa mendapatkan cinta sejatimu, mungkin kau akan kembali berpapasan dengannya dalam kehidupan selanjutnya. Tidak ada yang kebetulan anak-ku, suatu peristiwa saling menyambung dan menjadi awal peristiwa berikutnya. Tak akan putus, seperti cinta ku padamu.

 

Nah, sekarang sudah tiba waktu ku. Lanjutkan hidupmu, temukan cintamu, aku yang akan menjadi penengah di antara pencatat di sebelah kanan dan kirimu.

 

Dayang Sumbi tersenyum, kemudian melangkah menjauh bersama Tumang.

Sebelum Sangkuriang mampu mencerna, Dayang Sumbi hilang.

 

Jakarta, 2 Desember 2011

23:17

5 Komentar

Filed under dongeng, G30HM

5 responses to “Wejangan Dayang

  1. We like these words that you made “Tidak ada yang kebetulan anak-ku, suatu peristiwa saling menyambung dan menjadi awal peristiwa berikutnya”.
    We also like the ending “Sebelum Sangkuriang mampu mencerna, Dayang Sumbi hilang”. Membuat pembacanya berimajinasi:).

  2. suka paragraf2 terakhirnya ^^

  3. Terima kasih Wrisocmed dan mba Muthe.. Besok2 mampir lagi yaa.. ;D

  4. Rean Barkah

    Wejangan yang penuh dengan pesan. Like this!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s