In Case of Emergency…

“Halo, selamat siang. Betul dengan Sofia?”, sapa suara di ujung sana terburu-buru tanpa memberikan jeda bagi Sofia untuk menjawab salam.

“Ibu, bisa datang ke Rumah Sakit MMC, Kuningan?”, cecar suara di sana.

 

Sofia terkesiap. Kejutan apalagi ini. Bukannya tidak senang, tapi rasanya sudah semua sahabat dan anggota keluarga yang mengucapkan selamat ulang tahun hari ini. Pun segala macam surprise sudah dijalaninya. Bercanda dengan mengatas-namakan Rumah Sakit tentu bukanlah hal yang lucu. Bagaimana jadinya kalau ada malaikat lewat dan iseng lalu menjadikan semuanya kenyataan? Bahwa ternyata benar ada seseorang yang dikenalnya sedang berada di Rumah Sakit?

 

“Nggak bercanda kan ini?”, Sofia mencoba meyakinkan.

“Betul ibu kenal dengan Doni Atmaja?.”, deg. Nama itu.

 

Nama yang dikiranya sudah tidak akan mampu lagi menimbulkan efek seperti sekarang. Rasanya masih tetap nggak karuan. Tanpa menanyakan kenapa pria yang dulu pernah mengisi kehidupannya itu bisa berada di rumah sakit, Sofia berlari ke garasi dan buru-buru melajukan mobilnya ke rumah sakit yang disebut tadi.

Tanpa dikomando, secara tidak sadar dia kembali flashback  kenangannya bersama Doni. Pria yang paling tidak pernah melewatkan 2 ulang tahunnya. Tapi pria itu pula lah yang mengajarkan Sofia untuk tidak percaya sepenuhnya kepada laki-laki. Setelah hilang begitu saja, pun atas nama gengsi Sofia tidak mencoba mengklarifikasi. Tidak disangka, sudah hampir 2 tahun dia tidak bertemu dengan Doni.

Parkir sekenanya, Sofia buru-buru masuk ke lobi Rumah Sakit. Di bagian informasi, Sofia mendapati Doni Atmaja berada di kamar VIP 208, penyebab masuknya adalah kecelakaan lalu lintas. Ternyata saat dulu mendaftar pertama kali di Rumah Sakit, Doni mencantumkan nama Sofia di kolom “In case of emergency, call this number”. Konyol. Masuk akal sih, tapi tetap saja konyol.

Sembari menunggu lift, Sofia mengumpulkan keberanian dan daftar pertanyaan. Bagaimana kalau dimulai dengan yang paling mudah, seperti “Apa kabar.”, kemudian berakhir ke pertanyaan yang paling sulit untuk diucapkan “Apa kesalahanku sampai begitu saja ditinggalkan?”.

Berhenti sejenak di depan kamar 208, Sofia merapikan rambut dan piyama nya. Sial. Bagaimana dengan teori tunjukkan penampilan terbaikmu saat kamu harus bertemu dengan seseorang dari masa lalu? Nol besar. Pasti Doni akan bersyukur dulu sudah meninggalkannya. Ah sudahlah, paling tidak Sofia akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan besar yang selama ini tidak berhenti membayangi hari-hari nya.

 

Tok tok. Sofia mengetuk pintu.

“Masuk.”, suara perempuan menyahut dari dalam.

Oke, ini lelucon akbar malam ini. Di hari ulang tahunnya, menjelang tidur, tiba-tiba ia mendapatkan telephone untuk menemui seseorang yang paling tidak diharapkannya. Setelah dia terbirit-birit menuju ke Rumah Sakit, sekarang ada suara perempuan yang menyahut dari kamar Doni. Perempuan! Pacarnya kah? Adiknya? Doni anak bungsu. Ibunya? Mana mungkin suaranya semuda itu.

Menelan ludah, Sofia mendorong pintu ke dalam. Melongokkan kepala sedikit, ia mencoba membaca situasi di dalam. Sepi. Hanya ada 1 sosok berbaring dengan punggung menyender di kepala ranjang rumah sakit. Akhirnya, inilah saat yang ditunggu-tunggu selama ini. Klarifikasi.

Eh tunggu dulu, setelah dipehatikan lebih lanjut ternyata bukan Doni. Yang terbaring di ranjang adalah sesosok perempuan dengan rambut tergerai melewati bahu.

 

“Oh maaf, salah kamar.”, Sofia menganggukkan kepala sekenanya, beringsut mundur dan menutup pintu.

“Sofia,” sapa perempuan itu.

Eh lho? Kok dia tahu Sofia? Apa tadi secara tidak sadar dia telah menyebutkan namanya?

Sofia berhenti, antara lanjut menutup atau masuk menuruti panggilan suara itu.

Ini aku, Doni. Euh, kalo boleh sih manggilnya Dina aja.”, lanjut suara di dalam.

 

Sofia tidak tahu bagaimana lagi harus bereaksi. Melangkah pelan-pelan menuju ke ranjang itu, terbaring sosok perempuan dengan tangan kanan terbalut gips, tangan kiri diinfus, wajah menyeringai menahan sakit. Sofia membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Sofia menyusuri sosok Doni, atau Dina lekat-lekat. Doni tersenyum, Sofia juga. Doni menepuk pelan ranjang sebelah kirinya, mempersilahkan Sofia duduk. Sofia menurut.

Setelah berdiam entah berapa lama, pertanyaan yang paling sederhana pun bisa diucapkan Sofia “Apa kabar?”

2 Komentar

Filed under G30HM

2 responses to “In Case of Emergency…

  1. bigswamp

    it’s unfinished, I want moooorrreee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s