Upaya Terakhir

Delete this photo?

Klik ‘yes’.

Annisa menghapus satu persatu fotonya bersama Doni. Buat apa lagi, Doni sudah mengambil langkah yang cukup jelas tanpa perlu dibahas lagi. Dalam atau tidaknya perasaan bukan ditentukan lama atau tidaknya kebersamaan. Paling tidak selama lima bulan, Annisa pernah merasa jadi perempuan paling istimewa. Paling tidak itu sebelum ia mendapati dengan mata dan kepala sendiri Doni telah mengijinkan 1 hati untuk menerobos masuk dan menjadi pembatas yang cukup jelas di antara mereka kini.

 Ini semua salahnya yang membiarkan hatinya menikmati getar-getar perasaan lagi yang sudah alpa sekian lama. Cinta. Ah, seandainya saja menghapus kenangan di dalam hati dan otak semudah menghapus file di perangkat lunak.

Annisa memastikan kembali bahwa tidak ada lagi yang tersisa. Sesuatu yang bisa membuatnya berlari menghampiri Doni dan mengatakan “Mari kita lupakan semua, dan mulai dari awal saja.” Apa saja yang bisa membuatnya mengesampingkan logika.

Jam 2 pagi, Annisa merasa tidak nyaman di kamar sendiri. Tanpa diminta satu per satu kenangan kembali membanjiri. Ingin rasanya dia meyakini bahwa Doni yang baru saja kemarin dia temui adalah Doni yang berbeda. Semua ternyata sia-sia saat Annisa kembali mengingat genggaman tangannya, saat dengan canggung diperkenalkan oleh Sofia sahabatnya sendiri sebagai pacar barunya. Bagaimana Annisa bisa lupa dengan genggaman tangan yang pernah begitu pas menggenggam jemarinya.

Annisa merinding. Serasa ada Doni yang sedang memeluknya.

Jam 5 pagi, masih belum tidur, Annisa memutuskan untuk melakukan hal yang mungkin akan disesalinya.

Hallo.”, sapa suara di ujung sana.

“Hei, udah bangun?”, sejatinya Annisa tahu pasti Doni sudah terjaga untuk menunaikan salah satu rukun Islamnya.

“Udah. Ada apa?”,tanpa basa-basi Doni bertanya.

“I miss you.”, mulut Annisa lepas kendali, lidahnya bekerja lebih cepat dari otaknya.

“I miss you too.”, ada getar ketulusan di sana, Annisa tahu.

Tapi….” ,

 “Ssstt! Jangan diterusin.”, potong Annisa. “Biarkan aku punya kenangan terakhir yang indah tentang kamu.”

Annisa menutup telephone. Tersenyum.

Cukup buatnya mendengar pengakuan Doni barusan. Doni juga merindukannya. Paling tidak Annisa ingin mengenangnya seperti itu.

Upaya terakhir.

Annisa sudah merelakan semuanya. Semua foto, barang-barang pemberian, tiket-tiket nonton film, apapun….apapun yang bisa mengingatkannya pada Doni. Sampai akhirnya Annisa menyadari, dia tidak akan pernah bisa mengeluarkan Doni dari hati dan otaknya.

Annisa tahu apa yang harus dilakukan.

Jam 5 lewat 40 menit, Annisa meloncat ke luar jendela. Perjalanan melaju turun dari lantai 14, dirasa cukup untuk kilas balik pertemuan tidak sengaja, pertemuan-pertemuan yang kemudian tersusun sesuai rencana, sampai masa-masa indah berdua, dimana hanya ada dia dan Doni saja.

Doni. Doni. Doni. Doni. Doni.

Annisa meneriakkan nama itu berulang-ulang dalam hati sampai akhirnya tubuhnya membentur tanah di pelataran belakang apartemen tempat tinggalnya.

 

Jam 5 lewat 41 menit,

Akhirnya…..Doni bisa dicabut dengan paksa dari hati dan otaknya.

2 Komentar

Filed under G30HM

2 responses to “Upaya Terakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s