Seseorang Tak Bernama

Jakarta, weekend, sore, coffe shop dekat rumah.

 

 

Tiga puluh menit aku masih di sini, masih belum berkutik. Bergerak sesenti pun seolah tak berani. Dia begitu indah, seperti…..bila boleh aku gambarkan seperti pijar menyala yang membuat setiap mata menoleh dan berlomba-lomba mengabadikan keberadaannya. Aku takut sedikit saja aku bergerak akan membuatnya terkejut dan meredup beringsut pergi.

 

Entah sudah gelas berapa yang menemaniku mencuri-curi sekelebat bayang itu. Rambut kuncir kudanya bergoyang-goyang tak sabar mengiringi jemarinya mengetik sesuatu di depan layar laptopnya. Sibuk betul. Tapi hey, justru dengan begitu aku bisa leluasa memandanginya kan? Aku mulai sibuk mengatur-atur kata yang akan kugunakan saat berkenalan yang akan kubuat seolah-olah tidak sengaja. Haruskah kusenggol pundaknya saat aku beranjak keluar nanti? Atau kutulis saja nomorku dan kuberikan langsung pada pelayan? Ah..pengecut. Harusnya cara itu sudah kucoret dari 101 cara mengajak berkenalan ala Doni.

=====

=====

=====

Jangan tanya bagaimana caranya. Sekarang aku menggandeng Annisa menuju ke pelataran parkir sebuah mall. Baru saja kami menghabiskan malam minggu ke 5 kami nonton film di sebuah bioskop favoritnya di daerah Jakarta Pusat. Tiba-tiba Annisa melepaskan gandengan tanganku dan melangkah cepat ke depan.

 

“Taruhan bayarin makan malam, aku yang nyampe ke mobil duluan!”, Annisa langsung beringsut pergi.

Aku tertawa. Perempuan yang mendadak menjadi poros duniaku ini melaju beberapa langkah di depanku. Tentu saja aku mengalah. Aku suka berlama-lama berjalan di belakangnya, sambil menghirup aroma parfum nya di udara. Annisa membuatku gila!

 

Di mobil, Annisa berceloteh tanpa henti. Sesekali mengibaskan rambutnya dan bercerita dengan berapi-api. Tangannya bergerak-gerak ekspresif membantunya bercerita seberapa tinggi ia harus menggapai rak-rak ensiklopedia yang lama tak tersentuh sampai akhirnya jatuh menimpa kepalanya, seberapa jauh dia harus menggeser lemari buku untuk mendekorasi ulang kamarnya, sampai akhirnya dia bersungut-sungut dan terdiam.

“Kamu ih, aku cerita banyak kamu cuma bengong. Nggak konsen ya!”, gaya andalan ngambeknya Annisa sambil bersedekap dan mengerucutkan bibir mungilnya.

 

Ah! Mana mungkin aku mengabaikannya. Mana mungkin aku mengabaikan seorang Annisa. Diminta mengulang semua ceritanya pun aku pasti bisa tanpa terlewat satu pun titik dan koma nya. Sudahkah aku bilang kalau aku mencintainya? Aku; Doni sangat mencintai Annisa. Dia… sempurna.

=====

=====

=====

Ini malam minggu kedua aku melewatkan tanpa Annisa. Kupikir sudah lama kami bersama, ternyata baru 3 bulan minggu depan. Entah di mana letak kesalahannya, aku merasa bosan saja. Annisa ku masih Annisa yang dulu. Yang ceria, selalu cantik dengan rambut ekor kuda maupun tergerainya. Annisa yang masih selalu menggunakan parfum yang sama semenjak aku mengenalnya. Annisa yang tangannya kugenggam erat kepanpun saat kami bersama.

 

Perempuan yang kutemui di coffe shop waktu itu masih perempuan yang sama, yang tak pernah redup pesonanya. Perempuan yang selalu bisa mengundang tatapan iri setiap pria saat aku berjalan berdampingan dengannya. Perempuan yang selalu bisa membuatku membusungkan dada karena bangga akan kepintaran dan kecantikannya. Dia Annisa yang sama.

=====

=====

=====

Sofia, namanya. Seharian ini aku menghabiskan waktu bersamanya. Meskipun tidak secantik Annisa, tapi Sofia tak kalah menariknya. Sofia memujaku, seolah aku ini cinta pertamanya. Siapa yang bisa menolak perhatian dari perempuan seperti dia? Hati ini berdesir setiap tanpa sengaja mataku bertubrukan dengan matanya. Ah, Sofia.

 

Handphoneku bergetar dua kali, berkedip-kedip nama Annisa. Hmm..belum jera juga. 20 hari sudah aku mendiamkannya, lebih tepat mengabaikannya. Segala macam bentuk komunikasi sudah kuhentikan. Jangankan bertatap muka, telephone saja seperti saat ini tidak kuladeni. Kutekan tombol merah, dan memasang senyum semanis mungkin saat Sofia masuk ke mobil. Hari ini aku berjanji mengantarkannya ke suatu resepsi pernikahan…ah entahlah. Terlalu banyak resepsi yang harus kuhadiri, toh bukan temanku tapi teman Sofia.

“Kamu cantik banget.” , ujarku memuji dengan tulus.

“Iya dong, siapa dulu pacarnya.”, Sofia mencubit halus lenganku dan berkedip manja.

Tapi tentu saja kamu tidak secantik Annisa. Ujarku dalam hati, sambil melajukan mobil ke salah satu ballroom resepsi di bilangan Sudirman.

=====

=====

=====

Aku, Sofia, Annisa. Saling canggung berada dalam satu panggung yang sama. Ternyata Sofia dan Annisa adalah teman sepermainan waktu SMA dulu. Yah, setidaknya kecanggungan hanya terjadi antara aku dan Annisa. Setelah bersalaman dengan mempelai pengantin, Sofia menggandengku untuk berkenalan dengan sahabatnya waktu remaja.

 

Aku sampai lupa betapa aku pernah mengagungkan kecantikan perempuan yang kini berdiri di depanku. Sambil tersenyum, dia mengulurkan tangannya. Sofia tidak memperhatikan kalau kami tidak saling menyebutkan nama. Kami saling bersalaman dan tersenyum canggung. Tunggu dulu, senyum Annisa bukan senyum canggung. Itu senyum tulus! Seketika rasa dingin menyusupi dadaku. Sofia terlalu sibuk untuk memperhatikan kami, bercanda-canda dengan teman-teman yang lainnya beberapa langkah di sebelah kiri kami. Seluruh duniaku seolah terhisap dan hilang, semua kosong dan hanya Annisa yang ada di sana.

 

“Apa kabar?”, Annisa memecah keheningan.

“Baik. Kamu?”, aku berdoa semoga Annisa tidak mendengar degup jantungku yang seakan berontak ingin keluar dari sarangnya.

“Alhamdulillah baik. Sekarang aku tahu.”, masih dengan tersenyum dan mengibaskan rambut yang jatuh menutupi keningnya.

Aku menunduk dalam. Mencoba untuk mencari kata-kata yang pantas. Tapi sayang aku tidak menemukan kata-kata yang tepat. Ayo cepat, pikir! Kau harus menyelamatkan diri! Otak ku sudah menyiapkan berjuta alasan yang harus kusampaikan tapi mulut sialan ini seperti terkunci.

 

“Semoga kamu bahagia ya. Kalau boleh aku simpulkan, berarti sekarang aku dan kamu sudah nggak ada ikatan lagi. Ya? Aku pulang dulu, udah malem.”, tanpa menunggu jawabku Annisa melenggang pergi. Aku masih bisa merasakan kehadirannya dengan menghirup sisa-sisa aroma parfum yang pernah menjadi favoritku beberapa waktu yang lalu.

 

Aku mencoba mengabadikan tiap momen-momen terakhir dia bersamaku. Tangan yang selalu kugengam erat itu, kaki-kaki jenjang nya, rambutnya yang bergoyang-goyang mengikuti irama langkah kakinya, panggulnya, punggungnya, semuanya, kesempurnaan yang pernah aku cinta. Aku bahkan belum sempat membalas salam perpisahannya. Tapi mungkin ini perpisahan yang sempurna. Tanpa ada air mata, tanpa ada amarah yang meledak, tanpa letupan emosi yang tak bisa dikuasai.

 

Apa ini? Rasa apa ini? Rasa seperti dicabut setengah nyawa. Kaki ku lemas mendapati bahwa mungkin aku tidak akan pernah bersama dengan Annisa lagi. Dengan siapa aku akan menceritakan keluh kesah hariku? Kepada siapa aku harus mengadu saat aku kewalahan dengan klien-klien yang selalu menuntut tanpa kenal waktu? Dari siapa aku akan mendapatkan ketenangan saat aku sudah jenuh dan kalut dengan segala permasalahanku? Dengan siapa aku akan berebut suapan es krim terakhir di restoran favoritku? Kepada siapa aku akan mempersembahkan lagu-lagu yang kudengar setiap malam yang bercerita tentang kisah cinta yang sempurna? Seketika tertampar kenyataan, ya Tuhan aku kehilangan Annisa!

=====

=====

=====

“Semuanya seratus tiga puluh lima ribu, sudah dengan pesanan mbak yang di sana.”, pelayan memberikan bill tagihan.

Aku mengeluarkan 3 lembar lima puluh ribuan, beringsut dari kursi kayu yang sebenarnya tidak terlalu nyaman tapi sudah kududuki kurang lebih 2 jam ini.

Sudah cukup kenyamanan ini, tidak ingin kutambah lagi.

 

Beberapa meter berjalan melewati beberapa coffe shop di pusat perbelanjaan, ada suara asing berteriak, “Hey, Stranger!”.

Entah kenapa aku merasa bahwa teriakan tersebut untukku. Aku menoleh tepat ke arah coffe shop yang kutinggalkan beberapa saat yang lalu.

Seorang perempuan melambaikan selembar kertas putih, tersenyum dan berteriak “Thank you!”.

Aku tersenyum dan berteriak juga “You’re welcome!”

 

 

Melangkah pergi, hati ku sejuk. Mungkin akhir seperti ini yang harus terjadi.

Biarkanlah seseorang itu tetap menjadi seseorang yang tidak bernama.

Tanpa harus ada kisah yang hadir diantaranya. Dengan begitu, tidak akan pernah ada hati yang tersakiti, dengan begitu tidak akan pernah ada manipulasi.

Aku berjalan menjauh dari seseorang, yang mulai dari sekarang akan kuyakini bernama Annisa.

Atau akan lebih baik lagi bila dia berakhir tetap sebagai seseorang yang tidak bernama.

 

 

Jakarta, weekend, dua puluh meter dari coffe shop dekat rumah.

5 Komentar

Filed under G30HM

5 responses to “Seseorang Tak Bernama

  1. Postingan pertama aja sudah sepanjang ini.. Like This…
    Semoga postingan berikutnya tidak memendek…😀

  2. Vega

    eciee..marai galau. -___-“

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s