Perpisahan bagi yang beruntung.

Ada pertemuan, juga ada perpisahan. Standar ya. Dimana-mana juga gitu. Nggak ada perubahan yang berarti dari jaman presiden Soeharto sampe sekarang udah ganti berapa kali.

Sekarang, saya sedang berada di sebuah TKP pertemuan dan perpisahan di Jakarta. Bandara Soekarno Hatta. Biasa sih ya, pertemuan dan perpisahan terjadi di sini.

Satu-satu nya hal melegakan dari sebuah perpisahan adalah adanya harapan untuk kemudian dapat bertemu lagi. Saya memperhatikan beberapa tatapan mata gelisah, entah pengantar maupun yang diantar. Kegelisahan untuk melepaskan dan menjalani hari entah berapa lama tanpa keberadaan satu sama lain. Beruntunglah, karena kita yang berada di sini sudah diberi keistimewaan untuk mempersiapkan sebuah perpisahan.

Beruntunglah, kita masih dapat memberikan lambaian tangan bagi mereka yang pergi maupun yang ditinggalkan. Beruntunglah kita masih diberi kesempatan untuk memberikan pelukan sebelum akhirnya terselamatkan harapan untuk dapat bertemu lagi. Nanti.

Gamang rasanya untuk membayangkan sebuah perpisahan yang terpaksa terjadi tanpa aba-aba. Sebuah peristiwa, keberadaan seseorang, mau tidak mau akan menjadi sebuah kenangan nantinya.

Hal terbaik yang mungkin bisa saya lakukan adalah selalu menganggap sebuah perpisahan tidak akan berujung dengan pertemuan. Dengan begitu saya bisa menghargai tiap momentum yang terjadi. Bahkan saya selalu mencoba mengabadikan tiap rangkaian peristiwa sampai suatu perpisahan harus terjadi. Memori manusia terbatas. Sangat disayangkan apabila momentum yang berharga akhirnya berakhir jadi kenangan yang terlupakan.

Sebelum saya meracau lebih jauh lagi, intinya adalah……tidak semua orang beruntung dapat memutuskan kapan suatu perisahan dan pertemuan akan terjadi. Hargai dan nikmati setiap peristiwa, setiap kejadian, dengan sesiapapun. Kita tidak akan tahu kapan sebuah peristiwa akan tergelincir jadi kenangan. Kenangan perpisahan.

Jakarta, 5 April 2013.
Kepada yang pergi, semoga untuk kembali.

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

rumah itu (semoga) kamu

Bukan lama atau sebentar yang menjadi jaminan sesuatu itu kuat. Ingat iklan semen Holcim yang membangun gedung-gedung dan menara dalam durasi hitungan puluhan detik tapi bangunan itu masih kokoh berdiri dan ada sampai sekarang? Oh well, ilustrasi yang kurang tepat. *toyor diri sendiri*

Terus terang saya kesulitan untuk menggambarkan sesuatu yang dibangun atau didapatkan dengan instan, tapi memiliki daya tahan yang patut dibanggakan. Bukan berarti nggak ada. Bukan berarti nggak bisa.

Apa sih ujungnya tulisan saya kalau bukan tentang hubungan. Yang saya nggak ahli aja bisa nulis panjang lebar begini, meskipun sering kali prakteknya nol besar. *nyengir*

oke, pindah fokus yaaa..

Berapa kali diganjar kehilangan? Kehilangan minor yang membuat kita bisa skip saat nyetir di jalan dan lupa arah tujuan, atau kehilangan besar yang meninggalkan dendam yang terus dipupuk dan berharap terbalaskan? Saya pernah mengalami semuanya. Berkali-kali juga.

Sampai suatu hari, Tuhan dengan selera humornya yang entah bagaimana saya harus bisa mencerna, meletakkan saya dalam situasi kehilangan keinginan untuk membenci. Penerimaan yang selama ini entah dimana tersembunyi, muncul perlahan dan membebaskan. Bukan karena ada pengganti dari kehilangan yang selama ini saya keluhkan. Tapi sesederhana dibukakan pintu baru untuk menerima sesuatu yang sebenarnya sudah saya tunggu dari lama. Kebebasan untuk saling memiliki seutuhnya.

Saya perlu rumah untuk pulang. Rumah untuk menata kembali langkah yang gagal setelah sehari penuh mencoba. Rumah yang akan menerima dan membebaskan siapapun saya. Rumah untuk beristirahat dari tuntutan di luar sana, dan menjadi diri sendiri. Rumah dimana saya bisa bertemu dengan separuh jiwa yang saya tinggalkan pergi. Rumah dimana saya meyimpan semua harta terbesar saya, mimpi-mimpi. Rumah yang membuat saya tidak sabar segera berlari pulang untuk menemukan orang yang sama, setiap hari.

Rumah itu (semoga) kamu.

Jakarta, 30 Maret 2013.

20130330-111125.jpg

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under random

Mencintai kamu itu otodidak

Cinta itu otodidak.
Banyak yang berteori cinta itu ini, cinta itu begitu, bahkan saya pernah berteori bahwa cinta itu membebaskan. Saat kita mencintai sesuatu atau seseorang, tidak ada rasa yang lebih istimewa saat melihat yang kita cinta melenggang bebas dan bahagia, dengan atau tanpa keberadaan kita (atau saya). :)

Sekarang, di sini. Duduk di depan orang yang setidaknya hampir setahun terakhir menjadi salah satu manusia prioritas utama saya, seolah mendapat pencerahan, bahwa mencintai itu otodidak. Tidak ada yang dapat mengajari dengan sempurna bagaimana seharusnya mencintai atau dicintai. Semua hanya masalah persepsi. Betul kan?

Saat kita merasa sudah memberikan semaksimal yang kita mampu, eh yang bersangkutan sering merasa tidak cukup dan pura-pura tidak tahu. Familiar? :)

Tapi jangan salah, sering kali kita merasakan juga posisi di atas angin yang angkat dagu untuk segala perhatian yang sudah dicurahkan secara berlebihan. Kita menganggap itu biasa saja, padahal si empunya rasa sayang sudah setengah mati mengupayakan. Sekali lagi, cinta itu relatif. Pun, pengorbanan.

Saya mencintai kamu dengan sendirinya. Tanpa alasan, tanpa kenapa. Saya mencintai kamu dengan bebasnya, belajar sendiri, dengan atau tanpa campur tangan kamu, rasa ini meng-hebat luar biasa. Ini cinta yang saya pelajari dengan sendiri.

Seperti naik sepeda, banyak yang mengajarkan bagaimana tidak terjatuh, bagaimana tidak terluka, tapi yang mengayuh tetap saja dua kaki sendiri. Dalam mencintai, tidak ada yang sanggup melindungi hati yang berani dan terlanjur mencintai.

Saya mencintai kamu tanpa sempat berpamrih dan mengharapkan uluran tangan kembali. Saya mencintai seluruh bagian hidupmu tanpa terkecuali. Setiap kepingan masa lalu yang menjadikan kamu, pun akan coba saya cinta itu.

Mencintai dengan otodidak adalah sesempurnanya cara mencinta. Tanpa pernah tahu kapan belajar, tiba-tiba sudah ada di dalamnya. Kemudian terlibat dalam ketidaksengajaan yang indah. Saya tidak keberatan untuk terus belajar, mungkin tanpa sempat tahu bagaimana hasil akhirnya.

Jakarta, 7 Maret 2013.
Bagian mana yang belum kamu mengerti dalam “Aku mencintai sepenuhnya kamu?”.
PS. cepat sembuh ya.. :)

20130307-114455.jpg

2 Komentar

Filed under R, random

metode

Firman masih duduk di tempat yang sama. Tidak bergeser barang satu centimeter dari tempat semula. Imajinasinya terpecah dan beredar dengan poros masing-masing, berputar mencoba mencari penyelesaian dari sekian banyak masalah yang seakan meledek dan sengaja kompak untuk memberikan kejutan dengan datang bersamaan.

Bukan surprise seperti ini yang aku maksud, Tuhan.

Firman mengeluh dalam hati, bahkan dalam membatin perkataan pun dia masih sopan. Takut dengan membentak Tuhannya justru akan semakin enggan untuk menoleh dan mengangkat barang sedikit beban kehidupan.

Persetan dengan ulang tahun. Persetan dengan peringatan setahun sekali tentang pertambahan usia. Aku menolak menua. Aku menolak semua perubahan yang terjadi mendadak tanpa persetujuan.

Firman mulai tidak sopan.

Mendengus, kemudian mengerang perlahan.

Pertahanan terakhir Firman pecah. Saat dia marah kepada Tuhan, kepada siapa lagi dia harus mengadu? Firman kemudian mulai berdoa dan menguraikan belitan persoalan satu persatu. Ia merasa masih banyak manusia lain yang lebih pantas untuk ‘ditegur’ sama seperti cara ia ditegur akhir-akhir ini.

Kehilangan pekerjaan di waktu yang tidak tepat. Tapi hey, sejak kapan ada waktu yang tepat untuk kehilangan sumber mata pencaharian? Harus merelakan seorang makhluk indah terpuji tanpa cela yang ternyata tanpa basa-basi memilih untuk berkalang dosa daripada harus menerima cintanya. Ah, Firman menggelengkan kepala.

Menarik nafas lagi untuk kemudian meneruskan ceritanya, satu persatu.
Entah didengarkan atau tidak, Firman hanya ingin semesta tahu; kalau dia masih percaya akan adanya kekuatan besar yang mampu mengayomi semesta, tidak akan mungkin melewatkan tubuhnya yang kecil, sepersekian bagian yang menuntut diperhatikan.

Kau dengar aku Tuhan? Mungkin lama kita tidak saling bersentuhan.

Kalau saja ada 1 kata yang bisa dimasukkan dalam kamus “Kata-kata yang mudah diucapkan tapi entah bagaimana bisa diterapkan.”, Firman akan mencantumkan ikhlas di halaman pertama nomor ter-atas.

Menoleh ke sebelah kiri, Firman meraih dunianya sendiri. Membiarkan dirinya tersedot dalam dimensi dunia sempurna rekaannya. Dimana tidak ada rasa sakit, kecewa, ditinggalkan. Dunia tanpa cela. Firman menggoreskan pensilnya perlahan. Membentuk sebuah gambar, imajinasi bagaimana seharusnya dunianya berjalan. Firman melompat masuk, terjebak, untuk kemudian menolak diselamatkan.

Jakarta, 25 Desember 2012
Untuk semua pemimpi. :)

3 Komentar

Filed under fiksi, random

Dia dan doa (sapaan untuk hatimu)

Cantik, apa kabar?
Lama aku tak mendengar kau bersuara, seolah ketakutan.
Bagian masa lalu mana lagi yang membuatmu ragu?
Semua kerikil sudah kusingkirkan.

Kau lihat di sana?
Batu-batu besar itu?
Tugasmulah untuk menyingkirkan.
Tenang, kau punya seumur hidup untuk menyelesaikan.

Cantik, coba dengar.
Saat nanti kau merasa kelelahan, bukanlah dosa untuk berhenti sejenak dan beristirahat.
Mengatur langkah sebaik-baiknya itu perlu.
Kau tak ingin terjegal untuk ke sekian kalinya bukan?

Terus saja kau menggeleng.
Kau menutup telinga, akal sehat, dan hatimu.
Kalau dianggap perlu, lakukanlah.
Tapi dia masih saja bisa menyusup ke dalam dan menghancurkan semuanya.

Cantik, tenang saja.
Belum semua upaya kau lakukan.
Belum semua usaha kau kerahkan.
Masih ada lagi satu percobaan.

Hancurkan dia dengan doa.

Dia dan doa.

Berselisih satu vokal, tapi terpisah jurang maknanya.
Yang satu menghancurkan, yang satu menguatkan.

Cantik, mulailah berdoa.

4 November 2012,
kepada si cantik yang ada di setiap yang membaca,
lihatlah ke dalam dada, dia ada di sana. :)

Tinggalkan Sebuah Komentar

Filed under random

Untuk kamu yang hampir menyerah

 

 

 
Kalau kamu pernah bahagia, aku juga bahagia.
Meskipun bukan lagi aku yang membahagiakanmu.
 
Kalau kamu tertawa, aku juga tertawa.
Meskipun bukan aku lagi sponsor utama di balik tawamu.
 
Semua yang kamu alami,
coba dikalikan dua.
Kurang lebih seperti itulah yang aku rasa.
 
Sudah?
 
Nah sekarang, bayangkan bagaimana rasanya saat kamu bilang terus terang, kamu menyerah..
Luar biasa.
Mematung di sini, tidak sanggup berbuat apa-apa adalah hal terakhir yang aku harapkan.
 
Aku menyedihkan.
 
Pernah berjanji akan membuatmu selalu kuat dan bahagia,
tapi hanya bisa memandang di kejauhan saat kamu merapuh lemah.
 
Lemahmu mematikanku.
 
Ambil saja semangatku kalau kau mau.
Atau mungkin cadangan terakhir alasan bertahan hidupku.
 
Apa saja, apa saja asal kamu tidak menyerah.
 
Dengan atau tanpa aku, kamu bahagia.
Aku percaya,
dengan atau tanpa (campur tangan) ku, kamu akan kembali kuat.
Menantang nasib yang pernah bercanda dengan sombongnya.
Mengangguk mengiyakan takdir, meskipun tidak berjalan sesuai rencana.
 
Kalau kamu pernah kecewa,  itu namanya menjadi manusia.
Kalau kamu pernah gagal, siapa yang belum pernah?
 
Kalau sekarang kamu merasa sedang berada di titik ter-rendah, 
resapi,
ingat-ingat betul detailnya,
setiap pecutan rasa yang menyiksa.
 
Hingga nanti, saat roda berputar lagi dan kamu menjejak melangkah meninggalkan titik ini, kamu akan menolak untuk kembali. :)
 
 
2 November 2012,
 
Untuk kamu, yang sedang lupa caranya untuk kuat tapi semoga masih menolak untuk takluk.
Kamu terlalu hebat. :)

2 Komentar

Filed under Uncategorized

Maaf Tuhan (kemarin) aku marah

Tuhan maaf.

Kemarin aku marah.

Seandainya bisa bertemu tatap muka, pasti akan keluar makian dengan tidak sopannya.

Tapi untung tidak terkabul.

Karena aku takut bertemu Kau.

1 Komentar

Filed under Uncategorized